Sore itu, saya sedang berbaring santai di kamar kontrakan. Tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke telepon saya. Tak biasanya ada orang yang menelepon manual di era komunikasi digital WhatsApp seperti ini. Rupanya nomor baru.
"Selamat sore. Dengan ini kami memanggil saudara untuk datang ke kantor Tribun Timur, Jumat besok Pukul 14.00 WITA. Terima kasih," kata seorang perempuan melalui sambungan telepon.
Belakangan Perempuan itu saya ketahui bernama Ibu Kusmawati, bagian administrasi Tribun Timur. Rupanya saya dinyatakan lulus dan diterima menjadi reporter Tribun Timur. Ini tentunya sebuah kabar menggembirakan sore itu.
Setelah menyelesaikan studi S1 di kampus, Juli 2018 lalu, saya menjadi pengangguran. Empat bulan lamanya saya menjalani aktivitas makan, tidur, makan, lalu tidur kembali. Begitulah rutinitas saya belakangan ini.
Lelah rasanya saya menyebar berkas permohonan lamaran kerja. Mulai dari lamaran jadi guru di sekolah, serta pengajuan jadi reporter di beberapa media umum. Namun tak ada yang memberikan panggilan.
Maka kabar panggilan kerja tersebut memberikan spirit dan kegembiraan. Menjadi seorang pewarta yang ditugaskan di wilayah Kabupaten Gowa. Apatah lagi media ternama sekelas Tribun Timur. Sungguh sebuah kehormatan.
Turun kelapangan menemui narasumber, mengamati peristiwa, melakukan wawancara, menyusun naskah, hingga terbit menjadi berita ke hadapan pembaca.
Beberapa teman telah maju beberapa langkah ketimbang saya. Mereka yang lebih dulu menyelesaikan studi, ada yang sudah bekerja, mambangun rumah tangga, ada pula yang melanjutkan studinya.
Sejujurnya, saya memiliki impian untuk turut melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya di tanah Jawa, Universitas Negeri Malang. Cerita pengalaman dan ilmu dari sejumlah senior yang pernah mengenyam studi S2 di sana, memberi spirit bagi saya untuk mengikuti jejaknya.
Universitas Negeri Malang merupakan LPTK linguistik terbaik se-Indonesia. Sejumlah dosen kami pernah mengenyam pendidikan di sana. Belum lagi, beberapa guru besar UM pernah menjadi pembicara seminar nasional di himpunan kami. Olehnya saya memiliki keinginan kuat untuk mendalami ilmu linguistik di sana.
Meski sebenarnya beberapa orang termasuk Caknun berpendapat, bahwa untuk belajar dan menimba ilmu bukan hanya bisa ditempuh melalui pendidikan formal. Menurutnya belajar pun dapat dilakukan di mana saja.
"Kalau ingin jadi mahasiswa untuk cari ilmu, kenapa sedih karena tak lulus? Kan bisa belajar sendiri. Malah bebas. Tak menjadi narapidana kerajaan Akademi." (Caknun; Sipenmaru Secangkir Kopi Jon Pakir)
Awalnya saya sependapat. Namun, selain ingin mengenal dan berbaur dengan kultur dan budaya orang-orang Jawa, saya juga ingin menikmati nuansa akademik di UM. Katanya Spirit dan semangat belajar di sana sangat kuat. Hal yang tidak bisa ditemukan jika belajar sendiri.
Hanya saja, saat ini saya tak punya daya. Keterbatasan materi dan finansial membuat impian tersebut hanya bisa disimpan dalam hati saat ini. Saya sudah dua kali menyampaikan keinginan ke orang tua, namun tak mendapat restu.
Oleh karena itu, uang hasil penghasilan sebagai wartawan rencananya akan saya tabung perbulannya. Menjadi wartawan selama dua hingga tiga tahun, lalu mengejar dan mewujudkan impian tersebut. Ya, setumpuk asa yang disimpan rapi dalam diri.
*Ari Maryadi, 1 November 2018
"Selamat sore. Dengan ini kami memanggil saudara untuk datang ke kantor Tribun Timur, Jumat besok Pukul 14.00 WITA. Terima kasih," kata seorang perempuan melalui sambungan telepon.
Belakangan Perempuan itu saya ketahui bernama Ibu Kusmawati, bagian administrasi Tribun Timur. Rupanya saya dinyatakan lulus dan diterima menjadi reporter Tribun Timur. Ini tentunya sebuah kabar menggembirakan sore itu.
Setelah menyelesaikan studi S1 di kampus, Juli 2018 lalu, saya menjadi pengangguran. Empat bulan lamanya saya menjalani aktivitas makan, tidur, makan, lalu tidur kembali. Begitulah rutinitas saya belakangan ini.
Lelah rasanya saya menyebar berkas permohonan lamaran kerja. Mulai dari lamaran jadi guru di sekolah, serta pengajuan jadi reporter di beberapa media umum. Namun tak ada yang memberikan panggilan.
Maka kabar panggilan kerja tersebut memberikan spirit dan kegembiraan. Menjadi seorang pewarta yang ditugaskan di wilayah Kabupaten Gowa. Apatah lagi media ternama sekelas Tribun Timur. Sungguh sebuah kehormatan.
![]() |
| Pelatihan Jurnalistik Tribun Timur (Foto: Ocha Alim) |
Beberapa teman telah maju beberapa langkah ketimbang saya. Mereka yang lebih dulu menyelesaikan studi, ada yang sudah bekerja, mambangun rumah tangga, ada pula yang melanjutkan studinya.
Sejujurnya, saya memiliki impian untuk turut melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, khususnya di tanah Jawa, Universitas Negeri Malang. Cerita pengalaman dan ilmu dari sejumlah senior yang pernah mengenyam studi S2 di sana, memberi spirit bagi saya untuk mengikuti jejaknya.
Universitas Negeri Malang merupakan LPTK linguistik terbaik se-Indonesia. Sejumlah dosen kami pernah mengenyam pendidikan di sana. Belum lagi, beberapa guru besar UM pernah menjadi pembicara seminar nasional di himpunan kami. Olehnya saya memiliki keinginan kuat untuk mendalami ilmu linguistik di sana.
Meski sebenarnya beberapa orang termasuk Caknun berpendapat, bahwa untuk belajar dan menimba ilmu bukan hanya bisa ditempuh melalui pendidikan formal. Menurutnya belajar pun dapat dilakukan di mana saja.
"Kalau ingin jadi mahasiswa untuk cari ilmu, kenapa sedih karena tak lulus? Kan bisa belajar sendiri. Malah bebas. Tak menjadi narapidana kerajaan Akademi." (Caknun; Sipenmaru Secangkir Kopi Jon Pakir)
Awalnya saya sependapat. Namun, selain ingin mengenal dan berbaur dengan kultur dan budaya orang-orang Jawa, saya juga ingin menikmati nuansa akademik di UM. Katanya Spirit dan semangat belajar di sana sangat kuat. Hal yang tidak bisa ditemukan jika belajar sendiri.
Hanya saja, saat ini saya tak punya daya. Keterbatasan materi dan finansial membuat impian tersebut hanya bisa disimpan dalam hati saat ini. Saya sudah dua kali menyampaikan keinginan ke orang tua, namun tak mendapat restu.
Oleh karena itu, uang hasil penghasilan sebagai wartawan rencananya akan saya tabung perbulannya. Menjadi wartawan selama dua hingga tiga tahun, lalu mengejar dan mewujudkan impian tersebut. Ya, setumpuk asa yang disimpan rapi dalam diri.
“Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu kejar, biarkan ia mengambang dan menggantung 5 cm di depan kening kamu."
Dan kamu bawa mimpi dan keyakinan kamu itu setiap hari. Kamu lihat setiap harinya. Dan percaya bahwa kamu bisa menggapainya." (Donny Dhirgantoro: 5 cm)
*Ari Maryadi, 1 November 2018
