Minggu, 09 Februari 2025

Tujuh Tahun bersama Tribun Timur

MINGGU 9 Februari 2025 Tribun Timur genap berumur ke-21 tahun. Perayaan ulang tahun dirayakan dengan makan bersama di kantor. Ini tahun ketujuh bagi saya jadi jurnalis Tribun Timur. Saya bergabung sejak 1 November 2018 ketika baru lulus sarjana. Beragam pengalaman dan ilmu saya dapatkan.


PERAYAAN HUT
PERAYAAN HUT - Foto bersama karyawan Tribun Timur dalam momentum perayaan HUT ke-21 di kantor Jalan Cendrawasih Kota Makassar Minggu (9/2/2025) sore. (Foto: Muh Abdiwan)


Jurnalis adalah profesi yang menyenangkan dan menantang. Kita bekerja mencari, mengolah, dan menyebarkan informasi ke publik. Lewat profesi jurnalis, kita bertemu, berkenalan, dan berteman dengan beragam lapisan masyarakat. Baik itu masyarakat biasa, pedagang, polisi, pegawai, pengusaha, anggota dewan, bupati, hingga menteri.


Lewat pengalaman wawancara dengan narasumber, kita dapat banyak pandangan hidup. Di luar sana, banyak orang-orang yang tak seberuntung kita, tapi punya rasa syukur yang berlebih. Lewat pengalaman wawancara pula, kita belajar dan dapat ilmu dari para narasumber. Belajar liputan hukum, ekonomi, pemerintahan, dan politik. Kalau istilah di kampus, learning by doing.


Salah satu pengalaman tak terlupakan ketika bertugas liputan bencana tahun 2019 lalu. Kala itu Kabupaten Gowa diterjang bencana banjir dan longsor. Sejumlah pemukiman warga terendam banjir. Di dataran tinggi beberapa perkampungan hilang disapu longsor.

Saya ditugaskan ke lokasi longsor untuk meliput langsung dari lapangan. Berangkat pagi pulang malam. Kita belum bisa tidur nyenyak apabila halaman satu koran belum di-lay out. Setiap hari mencari informasi terbaru dari lokasi bencana. Kebahagian tersendiri ketika tulisan hasil liputan terbit di halaman satu. Apatah lagi bagi saya reporter baru saat itu.

Ada tangisan dari para keluarga korban. Ada pula seorang ayah kehilangan istri dan anak kecilnya. Beberapa rumah warga juga hilang. Saya melihat langsung beberapa mayat di lokasi. Sungguh sebuah kesedihan mendalam bagi keluarga korban. Sebuah pengalaman hidup, bahwa segala sesuatu di dunia adalah titipan. Sewaktu-waktu dapat diambil oleh Sang Khalik.

Profesi jurnalis juga membawa saya liputan ke berbagai daerah. Bekerja sambil liburan. Kita bertugas liputan ke luar kota. Pada Oktober 2024, saya dapat kesempatan liputan pelantikan anggota DPR RI di Senayan. Melihat langsung gedung wakil rakyat.

Selamat ulang tahun ke-21 Tribun Timur. Mata lokal menjangkau Indonesia.

Makassar 9 Februari 2025

Share:

Rabu, 23 Maret 2022

Didikan Bapak

BAPAK begitu keras dalam mendidik anaknya. Bapak seorang bintara polisi. Saya anak kedua dari lima bersaudara. Jika malas sekolah atau kedapatan mencuri, maka hukuman bapak menanti. Rotan, kabel bekas, ikan pinggang, bahkan ekor ikan pari jadi cambuk. Betis ataupun jari tangan jadi langganan cambuk.

Sejak kecil, saya gemar bermain game. Kala itu PS1 jadi favorit anak sekolah 2000-an. Saya sering mampir di warung PS setiap pulang sekolah. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar di Bantaeng.

Seingat saya, saya pertama kali diajak teman sekelas. Namanya Tahlil. Di era PS1, winning eleven, kungfu soccer, smackdown, CTR, tamiya jadi favorit. Bahkan saya pernah berpikir, mengapa mesti pergi sekolah, jika main PS lebih mengasyikkan.

PS1 adalah barang mewah bagi kami anak SD. Uang jajan Rp1 rupiah hanya bisa bermain 45 menit. Demi bermain PS, saya pernah nekat mencuri uang Ibu. Uang itu saya ambil dari hasil jualan bensin di depan rumah. Saya pun pergi ke tempat rental PS1 berjam-jam. Niatnya untuk menuntaskan misi perjalanan.

Sepulang ke rumah, Bapak dan Ibu rupanya curiga saya dari main PS berjam-jam. Saya pun ditanyai uang dari mana. Akhirnya saya jujur pakai uang jualan bensin ibu. Alhasil hukuman datang. Saya dihukum berdiri di teras. Kabel bekas dicambuk ke betis.

Didikan bapak begitu membekas dalam ingatan. Selain kabel ataupun rotan, saya juga pernah dihukum cambuk ekor ikan pari. Pesan bapak jangan malas sekolah. Jangan pernah mencuri lagi. Di bangku SMP ataupun SMA, Bapak juga sering berpesan kepada pihak sekolah. Jangan sungkan pukul anak saya kalau dia salah. Kami orang tua mendukung.

Momen idulfitri 1439 H tahun 2018 lalu.
(Foto dokumen keluarga)
Kini impian Bapak melihat anaknya sekolah hingga pendidikan tinggi sudah terwujud separuh. Bapak sudah mengantar dua putranya meraih gelar sarjana. Dua putranya yang lain sudah semester akhir. Sementara putra bungsunya sudah duduk bangku kelas 8 SMP. Saya juga melanjutkan kuliah S2 meski tidak lagi biayai Bapak. Saya sangat berharap bisa mengajak Bapak dan Ibu hadir prosesi wisuda.

Tapi kini Bapak terbaring sakit. Dalam dua tahun ini, Bapak sering bolak balik rumah sakit. Ia menderita penyakit diabetes selama belas tahun sejak 2009 lalu. Bahkan belakangan penyakitnya kian bertambah. Dokter bilang ada kerusakan ginjal, jantung, hingga saraf. Ingatan Bapak juga sudah melemah.

"Bapak tidak sadar sejak semalam Nak. Sudah 12 hari dirawat di rumah sakit, kondisinya belum membaik. Dokter bolehkan Bapak pulang ke rumah. Kondisi sudah tidak bisa bangun, tidak bisa berbicara. Bapak hanya bisa menatap," kata Ibu melalui pesan Whatsapp. (*)

*Selayar, Kamis 24 Maret 2022
Share:

Minggu, 02 Januari 2022

Bapak Berjuang Melawan Sakit

MINGGU (26/12/2021) malam saya masih menulis sejumlah berita di Kota Daeng. Tiba-tiba pesan ibu masuk. Ibu mengabarkan bapak kembali masuk rumah sakit.

"Bapak masuk rumah sakit lagi. Sekarang kami di ICU," tulis Ibu melalui pesan Whatsapp. 

Ini kesekian kalinya bapak masuk rumah sakit dalam dua tahun terakhir. Usianya sudah menunju senja, tapi bapak terus berjuang melawan sakitnya.

Momen perayaan Idulfitri 1439 hijriah Jumat (15/6/2018) di Benteng Selayar.
Tiga hari berselang, ibu kembali menyampaikan kabar terbaru, pesan dari Bapak.

"Bapak minta pulang ki besok nak, ajak adekmu. Bapakmu bilang sudah ada panggilannya, sudah mau pulang meninggalkan dunia," kata Ibu melalui pesan Whatsapp.

Kabar itu membuat saya kaget siang itu. Kabar yang menyesakkan dada. Maka malam harinya saya langsung berangkat ke Selayar dari Kota Makassar. Mengendarai sepada motor, kami menembus dinginnya malam. Melawan rasa kantuk.

Momen wisuda sarjana UNM 8 Agustus 2018 lalu

Sejak lulus SMA 2013 lalu, saya tinggal di Kota Makassar. Hingga lulus kuliah 2018, saya memilih jadi jurnalis di Makassar, jauh dari orang tua.

Kini bapak sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit umum daerah Hayyung Selayar. Jarum melekat di tangannya, alat pernapasan di hidung, ditambah sejumlah kabel menempel di dadanya. Dokter bilang ada kerusakan jantung dan ginjal bapak.

Bapak rupanya sudah mulai pikun. Ingatannya sudah melemah. Dokter bilang ada gangguan saraf sehingga ingatannya melemah. Kami berharap semoga saja ucapannya kemarin tidak serius karena pengaruh pikun.

Bapak kini tidak muda lagi. Usianya sudah melebihi setengah abad. Badannya tak lagi kekar seperti saat jadi bintara polisi zaman Orde Baru dulu.

Tapi Bapak terus berjuang melawan sakitnya, selama belasan tahun ini. Sakit itu bermula sejak 2009 lalu, bapak menderita sakit diabetes. Saat itu bapak sampai harus dirujuk ke RS Bhayangkara karena bisul di punggungnya yang tak kunjung sembuh bahkan sempat membesar.

Karena sakit diabetes, bapak harus terus minum obat, selama belasan tahun ini. Akibat pengaruh minum obat belasan tahun, sakit bapak rupanya bertambah. Kerusakan ginjal dan jantung.

Kini hari ketujuh bapak terbaring di ruang ICU RS Hayyung Selayar. Bapak adalah jebolan bintara polisi di masa Orde Baru. Usianya sudah menuju senja, tapi semangat bintara ABRI tidak padam melawan sakit. Hari ini Bapak terus berjuang melawan sakit. 

Saya selalu ingat kata-kata bapak setiap kali masuk rumah sakit selama ini. "Saya tidak apa-apa ji, jangan khawatir, saya sehat-sehat ji." (*)


*Selayar, Minggu 2 Januari 2022
Share:

Minggu, 18 April 2021

Pahlawan Itu Bernama Hilman Syah

SEPAKBOLA bukan hanya soal menang dan kalah. Olahraga si kulit bundar itu selalu menyajikan drama, menggugah perasaan pemain dan penonton. Senang, gembira, bangga, kesal, kecewa, hingga sedih. Malam ini pendukung PSM Makassar merasakannya, lagi. Ada yang bangga, ada pula yang kecewa.

Pinjam kata-kata salah satu senior di kampus, begitulah kalau bukan jodoh. Walau nyaris diperoleh tetap saja namanya bukan jodoh. PSM sejatinya nyaris menang. Tiga kali asa menghampiri, tiga kali pula gagal. PSM belum berjodoh dengan kemenangan.

(Foto: Instagram @hilman_syah97)
Bagi sebagian penggemar, laga PSM adalah pertaruhan gengsi dan harga diri. Apalagi melawan Persija Jakarta, rival berat PSM di Liga Indonesia 2018 lalu. Ketika itu Persija keluar sebagai juara meski sejumlah laga dinilai kontroversi. Persija unggul satu poin atas PSM Makasssar di akhir kompetisi.

Terbaru, langkah PSM Makassar menjuarai turnamen pra-musim Piala Menpora 2021 terhenti di babak semifinal. Pasukan Juku Eja ditumbangkan Persija Jakarta. Zulkifli Syukur dkk kalah lewat adu penalti; 4-3.

Label pahlawan layak disematkan kepada penjaga gawang PSM Makassar Hilman Syah. Putra asal Kabupaten Jeneponto itu berhasil menggagalkan serangan Marco Simic dkk. Sejumlah serangan selalu dimentahkan pemain bernomor punggung 97 itu. Tak ada gol tercipta selama 90 menit.

Penampilan gemilang Hilman Syah tak berhenti sampai di situ. Di babak adu penalti, Hilman Syah empat kali menahan tendangan algojo Persija Jakarta. Asa pun menghampiri pendukung sepakbola PSM Makassar.

Pengunjung Warkop Om Ben tempat kami menonton empat kali pula bersorak sorai. Begitupun di lokasi nobar lainnya. Sayang Dewi Fortuna belum berpihak pada Laskar Pinisi.

"Kualleangi tallanga natoalia," demikian kata pepatah Bugis-Makassar. Lebih kupilih tenggalam daripada pulang.

Meski langkah PSM Makassar terhenti, setidaknya pemain lokal Pasukan Ramang mampu tampil bersaing. PSM mampu melangkah hingga babak semifinal. Penjaga gawang Hilman Syah dua kali jadi pahlaman. Pemain berusia 24 tahun itu tampil gemilang dalam enam laga. Kini Hilman Syah telah bertransformasi jadi idola pendukung tim sepakbola Kota Anging Mammiri.

Sebelumnya Hilman Syah juga tampil sebagai pahlawan dalam laga delapan besar kontra PSIS Semarang. Laga skor kacamata diselesaikan dengan adu penalti. Hilman ketika itu berhasil menahan dua algojo PSIS Semarang.

Anies Baswedan bilang sepakbola memunculkan fanatisme pendukung dan dukungan total secara moril-material untuk kesebelasan dan pemain favoritnya. Sepakbola merangkul perbedaan dalam bingkai perbedaan. Pendukung PSM Makassar menyatu jika Laskar Pinisi berlaga. Ewako PSM Makassar, mari menanti Pasukan Ramang juara Liga Indonesia lagi. (*)

*Ari Maryadi, 18 April 2021
Share:

Rabu, 05 Februari 2020

Melewatkan CPNS

IMPIAN hidup sebagian besar masyarakat Indonesia adalah menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Punya penghasilan tetap hingga hari tua. Meminang kekasih hati, memiliki tempat tinggal tetap, membangun rumah tangga, lalu hidup bersama hingga usia senja. Ekonomi memang tak berlebih, namun tak juga kekurangan. Hidup sederhana dengan limpahan kasih sayang.

Kesempatan menjadi pegawai negeri sipil kembali dibuka oleh Kemenpan RB pada akhir tahun 2019 lalu. Sudah tiga tahun berturut-turut rekrutmen dibuka. Para anak bangsa tentunya saling berlomba memanfaatkan kesempatan ini. Tak sedikit teman maupun keluarga kini sudah berseragam cokelat. Jadi seorang abdi negara. Dua rekan pengurus himpunan mahasiswa masa kuliah dulu, maupun kakak kandung saya berhasil mencapainya.

Pada CPNS 2019 ini, teman-teman kuliah terus mempersiapkan diri sejak jauh hari. Memastikan pilihan formasi, menyiapkan beragam berkas dokumen, melatih keterampilan menjawab soal, dan tak lupa memohon doa restu orang tua dan Sang Khalik. Hingga awal tahun 2020 ini, mereka tak henti mempersiapkan diri.

Saya kembali mengingat pilihan berbeda yang saya tempuh ketika mendengar pembicaraan teman-teman di kampus beberapa hari lalu. Saya mendengar mereka saling bertanya pilihan sekolah, jadwal tes, ataupun hasil ujian yang diraih. Mereka mengejar impian menjadi pendidik untuk generasi masa depan. Saya memilih menepi ke sudut kelas ketika itu.

Suasana lokasi tes SKD CPNS Pemkab Gowa, Minggu (2/2/2020)
(Foto: Humas Pemkab Gowa)
Saya memang kembali melewatkan pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) formasi tahun 2019. Ini kali kedua saya melewatkan seleksi CPNS. Tahun lalu bahkan saya memutuskan tidak pergi tes walaupun sempat mendaftar. Ketika itu kedua orang tua tak henti menelepon karena tidak setuju. Sungguh berat membantah permintaan orang tua. Namun saya tetap pada pilihan yang saya tempuh.

Sejujurnya, saya sempat bimbang untuk menempuh jalan berbeda ini. Melewatkan kesempatan dan peruntungan itu. Bila lulus, maka mendapatkan kepastian hidup hingga hari tua. Bahkan bisa mencoba datang melamar ke rumah perempuan itu. Namun saya mencoba meyakinkan diri tetap pada pilihan ini. Termasuk tidak mengindahkan permintaan kedua orang tua ataupun perempuan itu.

Saat ini saya menjalani dua profesi sekaligus yang bersamaan. Menjadi jurnalis salah satu media ternama di Indonesia Timur, kedua melanjutkan pendidikan jenjang magister.

Secara materi, penghasilan PNS awal hampir sama dengan profesi jurnalis yang saya jalani saat ini. Bedanya, jam kerja pegawai negeri tergolong lebih sedikit. Pergi pagi pulang sore. Sementara jurnalis harus sedia setiap saat. Bahkan kadang bekerja di bawah tekanan.

Akan tetapi, profesi sebagai jurnalis juga punya kelebihan tersendiri. Memiliki relasi pertemanan yang luas. Mulai dari masyarakat biasa, menengah, aktivis, polisi, anggota dewan, pengusaha, PNS, camat, kepala dinas, maupun kepala daerah.

Berkat profesi jurnalis pula, saya dua kali keluar daerah sepanjang tahun 2019 lalu; mengunjungi gerlap gerlip Ibukota Jakarta maupun keindahan Kota Ambon, Provinsi Maluku. Tiket pesawat ditanggung, menginap di hotel, makan di restoran, ditambah lagi pemberian uang saku. Dulu, keluar daerah naik pesawat adalah impian yang saya idam-idamkan pada masa kuliah.

Selama menekuni profesi jurnalis, saya menyisihkan penghasilan tiap bulan demi biaya kuliah. Saya memang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan. Walau orang tua tidak mampu membiayai, namun keinginan melanjutkan pendidikan harus bisa diwujudkan. Salah satunya dengan jalan ini.

Sejatinya impian terbesar saya adalah ingin melanjutkan pendidikan di Jawa, Universitas Negeri Malang. Menikmati nuansa akademik yang kental, mengenal budaya Jawa, menimba ilmu dari dosen baru, hingga memiliki teman baru dari berbagai provinsi. Namun kondisi finansial tidak memungkinkan. Dua kali kucoba peruntungan beasiswa LPDP, namun dua kali pula gagal.

Saya pun memutuskan melanjutkan pendidikan magister di Kota Makassar. Bila bukan di Kota Angin Mammiri ini, saya belum tentu bisa melanjutkan kuliah. Mendalami ilmu pengetahuan bahasa ataupun pendidikan.

Saya memiliki cita-cita menjadi pendidik di dunia kampus. Ada tiga alasan mengapa saya bercita-cita menjadi dosen. Pertama, setiap harinya kita akan berinteraksi dalam nuansa akademik. Ilmu pengetahuan pun akan terus bertambah. Kedua profesi itu memiliki manfaat sosial bagi orang lain. Berbagi ilmu pengetahuan kepada mahasiswa. Ketiga, profesi ini mencukupi secara ekonomi. Mampu menghidupi keluarga. Cita-cita memang harus digantungkan setinggi langit. Kalau pun jatuh, setidaknya kita sudah mencoba berjuang meraihnya. Kepada kita, Tuhan mewajibkan ikhtiar hingga batas kemampuan.

Emha Ainun Nadjib mengatakan, semakin kita mencoba, yakinlah jalan kian terbuka. Di situ ada kemauan, percayalah pasti ada jalan. "Terkadang Allah tidak menyuruh kita sukses. Allah hanya menyuruh kita berjuang tanpa henti," demikian kata Cak Nun.

*Ari Maryadi, 5 Februari 2020

Share: