Rabu, 05 Februari 2020

Melewatkan CPNS

IMPIAN hidup sebagian besar masyarakat Indonesia adalah menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Punya penghasilan tetap hingga hari tua. Meminang kekasih hati, memiliki tempat tinggal tetap, membangun rumah tangga, lalu hidup bersama hingga usia senja. Ekonomi memang tak berlebih, namun tak juga kekurangan. Hidup sederhana dengan limpahan kasih sayang.

Kesempatan menjadi pegawai negeri sipil kembali dibuka oleh Kemenpan RB pada akhir tahun 2019 lalu. Sudah tiga tahun berturut-turut rekrutmen dibuka. Para anak bangsa tentunya saling berlomba memanfaatkan kesempatan ini. Tak sedikit teman maupun keluarga kini sudah berseragam cokelat. Jadi seorang abdi negara. Dua rekan pengurus himpunan mahasiswa masa kuliah dulu, maupun kakak kandung saya berhasil mencapainya.

Pada CPNS 2019 ini, teman-teman kuliah terus mempersiapkan diri sejak jauh hari. Memastikan pilihan formasi, menyiapkan beragam berkas dokumen, melatih keterampilan menjawab soal, dan tak lupa memohon doa restu orang tua dan Sang Khalik. Hingga awal tahun 2020 ini, mereka tak henti mempersiapkan diri.

Saya kembali mengingat pilihan berbeda yang saya tempuh ketika mendengar pembicaraan teman-teman di kampus beberapa hari lalu. Saya mendengar mereka saling bertanya pilihan sekolah, jadwal tes, ataupun hasil ujian yang diraih. Mereka mengejar impian menjadi pendidik untuk generasi masa depan. Saya memilih menepi ke sudut kelas ketika itu.

Suasana lokasi tes SKD CPNS Pemkab Gowa, Minggu (2/2/2020)
(Foto: Humas Pemkab Gowa)
Saya memang kembali melewatkan pendaftaran calon pegawai negeri sipil (CPNS) formasi tahun 2019. Ini kali kedua saya melewatkan seleksi CPNS. Tahun lalu bahkan saya memutuskan tidak pergi tes walaupun sempat mendaftar. Ketika itu kedua orang tua tak henti menelepon karena tidak setuju. Sungguh berat membantah permintaan orang tua. Namun saya tetap pada pilihan yang saya tempuh.

Sejujurnya, saya sempat bimbang untuk menempuh jalan berbeda ini. Melewatkan kesempatan dan peruntungan itu. Bila lulus, maka mendapatkan kepastian hidup hingga hari tua. Bahkan bisa mencoba datang melamar ke rumah perempuan itu. Namun saya mencoba meyakinkan diri tetap pada pilihan ini. Termasuk tidak mengindahkan permintaan kedua orang tua ataupun perempuan itu.

Saat ini saya menjalani dua profesi sekaligus yang bersamaan. Menjadi jurnalis salah satu media ternama di Indonesia Timur, kedua melanjutkan pendidikan jenjang magister.

Secara materi, penghasilan PNS awal hampir sama dengan profesi jurnalis yang saya jalani saat ini. Bedanya, jam kerja pegawai negeri tergolong lebih sedikit. Pergi pagi pulang sore. Sementara jurnalis harus sedia setiap saat. Bahkan kadang bekerja di bawah tekanan.

Akan tetapi, profesi sebagai jurnalis juga punya kelebihan tersendiri. Memiliki relasi pertemanan yang luas. Mulai dari masyarakat biasa, menengah, aktivis, polisi, anggota dewan, pengusaha, PNS, camat, kepala dinas, maupun kepala daerah.

Berkat profesi jurnalis pula, saya dua kali keluar daerah sepanjang tahun 2019 lalu; mengunjungi gerlap gerlip Ibukota Jakarta maupun keindahan Kota Ambon, Provinsi Maluku. Tiket pesawat ditanggung, menginap di hotel, makan di restoran, ditambah lagi pemberian uang saku. Dulu, keluar daerah naik pesawat adalah impian yang saya idam-idamkan pada masa kuliah.

Selama menekuni profesi jurnalis, saya menyisihkan penghasilan tiap bulan demi biaya kuliah. Saya memang memiliki keinginan melanjutkan pendidikan. Walau orang tua tidak mampu membiayai, namun keinginan melanjutkan pendidikan harus bisa diwujudkan. Salah satunya dengan jalan ini.

Sejatinya impian terbesar saya adalah ingin melanjutkan pendidikan di Jawa, Universitas Negeri Malang. Menikmati nuansa akademik yang kental, mengenal budaya Jawa, menimba ilmu dari dosen baru, hingga memiliki teman baru dari berbagai provinsi. Namun kondisi finansial tidak memungkinkan. Dua kali kucoba peruntungan beasiswa LPDP, namun dua kali pula gagal.

Saya pun memutuskan melanjutkan pendidikan magister di Kota Makassar. Bila bukan di Kota Angin Mammiri ini, saya belum tentu bisa melanjutkan kuliah. Mendalami ilmu pengetahuan bahasa ataupun pendidikan.

Saya memiliki cita-cita menjadi pendidik di dunia kampus. Ada tiga alasan mengapa saya bercita-cita menjadi dosen. Pertama, setiap harinya kita akan berinteraksi dalam nuansa akademik. Ilmu pengetahuan pun akan terus bertambah. Kedua profesi itu memiliki manfaat sosial bagi orang lain. Berbagi ilmu pengetahuan kepada mahasiswa. Ketiga, profesi ini mencukupi secara ekonomi. Mampu menghidupi keluarga. Cita-cita memang harus digantungkan setinggi langit. Kalau pun jatuh, setidaknya kita sudah mencoba berjuang meraihnya. Kepada kita, Tuhan mewajibkan ikhtiar hingga batas kemampuan.

Emha Ainun Nadjib mengatakan, semakin kita mencoba, yakinlah jalan kian terbuka. Di situ ada kemauan, percayalah pasti ada jalan. "Terkadang Allah tidak menyuruh kita sukses. Allah hanya menyuruh kita berjuang tanpa henti," demikian kata Cak Nun.

*Ari Maryadi, 5 Februari 2020

Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar