Rabu, 15 Januari 2020

Idealisme Kebangsaan dalam Habibie Ainun 3

DUKA mendalam menyelimuti Indonesia di Tahun 2019. Salah seorang putra terbaik bangsa, Bacharuddin Jusuf Habibie (83) tutup usia. Ia berpulang menyusul istrinya, Hasri Ainun Besari.

Di penghujung tahun 2019, Film Habibie Ainun 3 dirilis untuk mengenang kisah hidup putra kelahiran Parepare Sulawesi Selatan itu. Termasuk potongan cerita hidup mendiang istrinya, Ainun.

Habibie dan Ainun memang telah wafat. Namun cita-cita dan idealisme kebangsaan keduanya tetap hidup di jiwa kita. Salah satunya melalui Film Habibie & Ainun 3.

dr. Ainun Habibie diperankan oleh Maudy Ayunda.
(Foto: Instagram @maudyayunda)
Saya sangat menyukai film itu. Banyak pesan inspiratif yang saya dapatkan, utamanya karakter memegang teguh prinsip dan idealisme.

Film Habibie & Ainun 3 fokus bercerita tentang kisah Ibu Ainun muda. Seorang mahasiswi Ilmu Kedokteran Universitas Indonesia. Saya melihat film itu mengajarkan tentang pengorbanan cinta dan idealisme kebangsaan seorang Ainun muda.

Ainun muda menyimpan cita-cita mengabdikan diri untuk Indonesia. Ikut berkontribusi untuk pembangunan tanah air. Hal itu dijadikan prinsip hidupnya sebagai seorang anak bangsa. Sebuah idealisme kebangsaan.

Ainun rela melepaskan laki-laki yang ia cintai karena perbedaan prinsip. Namanya Ahmad, seorang mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Indonesia sekaligus putra dosen Ainun.

Kekasih Ainun, diceritakan sebagai seorang yang cerdas, utamanya dalam bidang hukum. Ahmad hadir mengisi hari-hari Ainun. Ia juga menjadi kawan diskusi bagi Ainun. Termasuk memperjuangkan harga diri Ainun ketika direndahkan oleh seorang mahasiswa senior.

Walaupun memiliki perasaan dan saling mencintai, akan tetapi Ainun dan Ahmad rupanya memiliki prinsip hidup yang berbeda.

Ahmad sangsi dan pesimis terhadap kemajuan tanah air. Ia enggan mengabdikan diri dan ingin meninggalkan Indonesia. Ia ingin membangun karier di luar negeri. Baginya keadilan sosial dan masa depan lebih cerah di luar negeri. Tak ada kecintaan tanah air dalam diri Ahmad.

Atas perbedaan prinsip itu, Ainun memutuskan mengakhiri kisah cintanya dengan Ahmad. Keduanya mengakhiri hubungan asmaranya yang diwarnai air mata. Saya ikut menangis menyaksikan adegan itu.

"Kita berada dalam buku yang sama, tetapi halaman yang berbeda. Maafkan aku Ahmad," demikian pesan perpisahan Ainun kepada kekasihnya.

Film Habibie Ainun 3 juga bercerita tentang kekerasan gender dalam kehidupan sosial Indonesia pada tahun 1950-an. Perempuan selalu direndahkan. Dianggap berakhir di dapur. Perempuan dianggap emosional dan tidak tepat menjadi dokter. Namun Ainun tetap berupaya melawan kekerasan gender tersebut.

Ainun menanamkan pesan mendalam ayahnya dalam pikirannya. Pesan bijak itu menyatakan bahwa Indonesia memang sudah merdeka, namun pikiran sejumlah orang-orang Indonesia belum merdeka.

Ainun terus gigih menjalani pendidikannya sebagai mahasiswi kedokteran. Tak patah semangat walau tak jarang harga dirinya direndahkan. Hingga akhirnya, ia keluar sebagai lulusan terbaik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia mampu menjawab keraguan dan pemikiran primitif orang-orang ketika itu.

*Mall Nipah, Makassar. Ari Maryadi, 15 Januari 2020
Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar