Masih membekas dalam ingatan, kala ratusan orang datang dan menginjakkan kaki di kampus ungu. Dengan pakaian hitam putih, mereka saling sapa dan berkenalan. Ada setumpak asa, ingin belajar dan menimba ilmu di lembaga bernama perguruan tinggi.
Kini hampir empat tahun telah berlalu. Ratusan orang tersebut mulai sibuk menjalani praktik mengajar di sekolah. Ada pula yang bersahabat dengan laptop, menyusun proposal penelitian hingga skripsi. Tak lupa menemui dosen untuk melakukan konsultasi di kampus.
Saya menempuh jalan berbeda. Saya masih berurusan dengan aktivitas perkuliahan. Duduk dan belajar bersama adik-adik junior. Jangankan proposal, judul penelitian pun tak pernah saya garap. Saya masih nyaman dan belum ingin beranjak dari status kemahasiswaanku.
Beberapa waktu lalu, saya menghadiri ujian proposal seorang teman di kampus. Ia tampak begitu sumringah. Raut wajahnya memancarkan keceriaan dan semangat. Ada ucapan selamat dari teman-temannya. Saya ikut senang atas keberhasilan dan jalan yang ia pilih.
Hanya saja, ia tampak prihatin melihatku. Saat ini saya memang masih sibuk dengan urusan kuliah. Akan tetapi saya sendiri tetap nyaman dan tak menyesal dengan jalan yang saya pilih. Saya selalu meyakini, keberhasilan tidak diukur dari cepat atau lambatnya seseorang dalam menjalani studi. Begitupun dengan tinggi rendahnya indeks prestasi kumulatif (IPK), tak menjamin sebuah kesuksesan kelak.
Saya sangat terinspirasi pesan Anies Baswedan. Menurut Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu tak menjadi masalah bila seseorang lama kuliah. Ia juga menekankan, merugilah mereka yang kuliah sebatas di dalam ruang kelas semata. Masa depan tak bisa dibangun hanya dengan selembar ijazah. Dibutuhkan pengalaman, kemampuan komunikasi, serta kepemimpinan. Hal tersebut dapat didapatkan melalui organisasi.
"IPK dan lama kuliah itu hanya ditanya saat wisuda. Yang kuliahnya cepat, IP-nya tinggi senyumnya lebih lebar daripada yang tidak. Tapi dalam perjalanan ke depan yang dibutuhkan lebih dari itu."
"Anda bisa lihat, mereka-mereka yang banyak memberikan kontribusi bagi masyarakat, mereka yang berpengaruh, mereka yang bisa mendorong kemajuan, adalah mereka yang pada masa mudanya tidak hanya menghabiskan waktu di dalam ruang kelas, tetapi juga di luar ruang kelas," ucap pria yang kini mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta itu.
Oleh karena itu, saya membuat jalan sendiri yang berbeda dengan yang lain. Sejak mahasiswa baru, saya bergelut dan berkecimpung dalam lembaga kemahasiswaan. Mulai dari lembaga pers mahasiswa serta himpunan mahasiswa tingkatan prodi. Saya lebih banyak belajar di sana.
Kini hampir empat tahun telah berlalu. Ratusan orang tersebut mulai sibuk menjalani praktik mengajar di sekolah. Ada pula yang bersahabat dengan laptop, menyusun proposal penelitian hingga skripsi. Tak lupa menemui dosen untuk melakukan konsultasi di kampus.
Saya menempuh jalan berbeda. Saya masih berurusan dengan aktivitas perkuliahan. Duduk dan belajar bersama adik-adik junior. Jangankan proposal, judul penelitian pun tak pernah saya garap. Saya masih nyaman dan belum ingin beranjak dari status kemahasiswaanku.
Beberapa waktu lalu, saya menghadiri ujian proposal seorang teman di kampus. Ia tampak begitu sumringah. Raut wajahnya memancarkan keceriaan dan semangat. Ada ucapan selamat dari teman-temannya. Saya ikut senang atas keberhasilan dan jalan yang ia pilih.
Hanya saja, ia tampak prihatin melihatku. Saat ini saya memang masih sibuk dengan urusan kuliah. Akan tetapi saya sendiri tetap nyaman dan tak menyesal dengan jalan yang saya pilih. Saya selalu meyakini, keberhasilan tidak diukur dari cepat atau lambatnya seseorang dalam menjalani studi. Begitupun dengan tinggi rendahnya indeks prestasi kumulatif (IPK), tak menjamin sebuah kesuksesan kelak.
Saya sangat terinspirasi pesan Anies Baswedan. Menurut Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu tak menjadi masalah bila seseorang lama kuliah. Ia juga menekankan, merugilah mereka yang kuliah sebatas di dalam ruang kelas semata. Masa depan tak bisa dibangun hanya dengan selembar ijazah. Dibutuhkan pengalaman, kemampuan komunikasi, serta kepemimpinan. Hal tersebut dapat didapatkan melalui organisasi.
"IPK dan lama kuliah itu hanya ditanya saat wisuda. Yang kuliahnya cepat, IP-nya tinggi senyumnya lebih lebar daripada yang tidak. Tapi dalam perjalanan ke depan yang dibutuhkan lebih dari itu."
"Anda bisa lihat, mereka-mereka yang banyak memberikan kontribusi bagi masyarakat, mereka yang berpengaruh, mereka yang bisa mendorong kemajuan, adalah mereka yang pada masa mudanya tidak hanya menghabiskan waktu di dalam ruang kelas, tetapi juga di luar ruang kelas," ucap pria yang kini mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta itu.
Oleh karena itu, saya membuat jalan sendiri yang berbeda dengan yang lain. Sejak mahasiswa baru, saya bergelut dan berkecimpung dalam lembaga kemahasiswaan. Mulai dari lembaga pers mahasiswa serta himpunan mahasiswa tingkatan prodi. Saya lebih banyak belajar di sana.
![]() |
| Olimpiade Pendidikan Bahasa Indonesia 2016. Persembahan kami sebagai mahasiswa. (Foto: Muhammad Agung) |
Ketimbang belajar dan menuntut ilmu di dalam kelas, polanya statis dan monoton. Sesekali mendengarkan ceramah dari dosen. Mengerjakan tugas, membentuk kelompok, serta berdiskusi mengenai materi dari dosen. Semua serba membosankan dan tidak memiliki dampak berarti untuk kehidupan nyata.
Beberapa pendahulu kampus pun demikian. Sebagian besar telah menuai hasil, meski menumpuh studi lebih dari empat tahun, namun mereka sudah beberapa langkah lebih maju ketimbang teman-teman seangkatannya. Sebab mereka mengisi waktu untuk berproses dan belajar dalam organisasi kemahasiswaan pada masa kuliah. Ini menjadi pegangan bagi saya, walau konsekuensinya keterlambatan meraih gelar sarjana.
Saya berharap bisa mengikuti jejak keberhasilan para pendahulu yang telah menuai sukses. Dan semoga ini bisa jadi pembelajaran bagi kita, agar tidak termasuk orang-orang yang menyesal kelak lantaran tidak memanfaatkan masa kuliah dengan baik. (*)
*Ari Maryadi - 26 Maret 2017
Beberapa pendahulu kampus pun demikian. Sebagian besar telah menuai hasil, meski menumpuh studi lebih dari empat tahun, namun mereka sudah beberapa langkah lebih maju ketimbang teman-teman seangkatannya. Sebab mereka mengisi waktu untuk berproses dan belajar dalam organisasi kemahasiswaan pada masa kuliah. Ini menjadi pegangan bagi saya, walau konsekuensinya keterlambatan meraih gelar sarjana.
Saya berharap bisa mengikuti jejak keberhasilan para pendahulu yang telah menuai sukses. Dan semoga ini bisa jadi pembelajaran bagi kita, agar tidak termasuk orang-orang yang menyesal kelak lantaran tidak memanfaatkan masa kuliah dengan baik. (*)
*Ari Maryadi - 26 Maret 2017
