Kamis, 28 Januari 2016

Belajar Dewasa

Setiap pilihan memiliki konsekuensi. Setiap orang dituntut untuk bertanggung jawab atas pilihan yang diambil. Manusia dinilai dari sejauh mana ia mampu bertanggung jawab, serta menjalankan amanah yang dipercayakan kepadanya.

..Begitu kata orang…

Akhir-akhir ini saya dihadapkan berbagai masalah. Saya terjebak dan tak mampu menyelesaikannya. Pengetahuan seseorang tak menjamin untuk mudah menyelesaikan masalah. Dibutuhkan kedewasaan dan kematangan berpikir.

Saya memiliki dua orang adik. Memiliki dua orang adik itu sebenarnya baik. Akan tetapi dipercayakan untuk mengasuhnya secara bersamaan merupakan tugas yang tak mudah. Hal itulah yang sedang saya jalani.

Sumber
Kesalahan saya mungkin adalah menerima kedua permintaan itu. Saya menerimanya begitu saja tanpa menakar kemampuan yang saya miliki. Semestinya saya mempertimbangkan lebih dulu secara matang dan mengambil keputusan.

Orang-orang sekitar telah kecewa terhadapku. Ada yang menganggap saya seorang pembohong. Ada pula yang menganggap saya sebagai orang munafik. Begitu penilaian mereka atas perilaku saya selama ini.

Saya pun sadar tak ada yang mampu saya lakukan. Tak ada yang mampu saya ukir dengan indah. Tak ada yang mampu saya berikan kepada orang lain. Saya belum dewasa. Belum dewasa untuk menyikapi sebuah masalah. Semoga saya belajar untuk lebih baik ke depan.

“Kalau pertimbangan perbuatan manusia adalah suka atau tidak suka, berarti dia masih bayi. Yang tertinggi derajatnya adalah ketika dia ikhlas melakukan apa yang memang dibutuhkan untuk manfaat bagi masyarakat banyak, seberat dan setidak enak apapun. Ini merupakan tanda dewasanya manusia,” Emha Ainun Nadjib.


*Ari Maryadi – 29 Januari 2016
Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar