"Bapak masuk rumah sakit lagi. Sekarang kami di ICU," tulis Ibu melalui pesan Whatsapp.
Ini kesekian kalinya bapak masuk rumah sakit dalam dua tahun terakhir. Usianya sudah menunju senja, tapi bapak terus berjuang melawan sakitnya.
| Momen perayaan Idulfitri 1439 hijriah Jumat (15/6/2018) di Benteng Selayar. |
Tiga hari berselang, ibu kembali menyampaikan kabar terbaru, pesan dari Bapak.
"Bapak minta pulang ki besok nak, ajak adekmu. Bapakmu bilang sudah ada panggilannya, sudah mau pulang meninggalkan dunia," kata Ibu melalui pesan Whatsapp.
Kabar itu membuat saya kaget siang itu. Kabar yang menyesakkan dada. Maka malam harinya saya langsung berangkat ke Selayar dari Kota Makassar. Mengendarai sepada motor, kami menembus dinginnya malam. Melawan rasa kantuk.
| Momen wisuda sarjana UNM 8 Agustus 2018 lalu |
Sejak lulus SMA 2013 lalu, saya tinggal di Kota Makassar. Hingga lulus kuliah 2018, saya memilih jadi jurnalis di Makassar, jauh dari orang tua.
Kini bapak sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit umum daerah Hayyung Selayar. Jarum melekat di tangannya, alat pernapasan di hidung, ditambah sejumlah kabel menempel di dadanya. Dokter bilang ada kerusakan jantung dan ginjal bapak.
Bapak rupanya sudah mulai pikun. Ingatannya sudah melemah. Dokter bilang ada gangguan saraf sehingga ingatannya melemah. Kami berharap semoga saja ucapannya kemarin tidak serius karena pengaruh pikun.
Bapak kini tidak muda lagi. Usianya sudah melebihi setengah abad. Badannya tak lagi kekar seperti saat jadi bintara polisi zaman Orde Baru dulu.
Tapi Bapak terus berjuang melawan sakitnya, selama belasan tahun ini. Sakit itu bermula sejak 2009 lalu, bapak menderita sakit diabetes. Saat itu bapak sampai harus dirujuk ke RS Bhayangkara karena bisul di punggungnya yang tak kunjung sembuh bahkan sempat membesar.
Karena sakit diabetes, bapak harus terus minum obat, selama belasan tahun ini. Akibat pengaruh minum obat belasan tahun, sakit bapak rupanya bertambah. Kerusakan ginjal dan jantung.
Kini hari ketujuh bapak terbaring di ruang ICU RS Hayyung Selayar. Bapak adalah jebolan bintara polisi di masa Orde Baru. Usianya sudah menuju senja, tapi semangat bintara ABRI tidak padam melawan sakit. Hari ini Bapak terus berjuang melawan sakit.
Kini bapak sedang terbaring di atas ranjang rumah sakit umum daerah Hayyung Selayar. Jarum melekat di tangannya, alat pernapasan di hidung, ditambah sejumlah kabel menempel di dadanya. Dokter bilang ada kerusakan jantung dan ginjal bapak.
Bapak rupanya sudah mulai pikun. Ingatannya sudah melemah. Dokter bilang ada gangguan saraf sehingga ingatannya melemah. Kami berharap semoga saja ucapannya kemarin tidak serius karena pengaruh pikun.
Bapak kini tidak muda lagi. Usianya sudah melebihi setengah abad. Badannya tak lagi kekar seperti saat jadi bintara polisi zaman Orde Baru dulu.
Tapi Bapak terus berjuang melawan sakitnya, selama belasan tahun ini. Sakit itu bermula sejak 2009 lalu, bapak menderita sakit diabetes. Saat itu bapak sampai harus dirujuk ke RS Bhayangkara karena bisul di punggungnya yang tak kunjung sembuh bahkan sempat membesar.
Karena sakit diabetes, bapak harus terus minum obat, selama belasan tahun ini. Akibat pengaruh minum obat belasan tahun, sakit bapak rupanya bertambah. Kerusakan ginjal dan jantung.
Kini hari ketujuh bapak terbaring di ruang ICU RS Hayyung Selayar. Bapak adalah jebolan bintara polisi di masa Orde Baru. Usianya sudah menuju senja, tapi semangat bintara ABRI tidak padam melawan sakit. Hari ini Bapak terus berjuang melawan sakit.
Saya selalu ingat kata-kata bapak setiap kali masuk rumah sakit selama ini. "Saya tidak apa-apa ji, jangan khawatir, saya sehat-sehat ji." (*)
*Selayar, Minggu 2 Januari 2022