Sejak kecil, saya gemar bermain game. Kala itu PS1 jadi favorit anak sekolah 2000-an. Saya sering mampir di warung PS setiap pulang sekolah. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah dasar di Bantaeng.
Seingat saya, saya pertama kali diajak teman sekelas. Namanya Tahlil. Di era PS1, winning eleven, kungfu soccer, smackdown, CTR, tamiya jadi favorit. Bahkan saya pernah berpikir, mengapa mesti pergi sekolah, jika main PS lebih mengasyikkan.
PS1 adalah barang mewah bagi kami anak SD. Uang jajan Rp1 rupiah hanya bisa bermain 45 menit. Demi bermain PS, saya pernah nekat mencuri uang Ibu. Uang itu saya ambil dari hasil jualan bensin di depan rumah. Saya pun pergi ke tempat rental PS1 berjam-jam. Niatnya untuk menuntaskan misi perjalanan.
Sepulang ke rumah, Bapak dan Ibu rupanya curiga saya dari main PS berjam-jam. Saya pun ditanyai uang dari mana. Akhirnya saya jujur pakai uang jualan bensin ibu. Alhasil hukuman datang. Saya dihukum berdiri di teras. Kabel bekas dicambuk ke betis.
Didikan bapak begitu membekas dalam ingatan. Selain kabel ataupun rotan, saya juga pernah dihukum cambuk ekor ikan pari. Pesan bapak jangan malas sekolah. Jangan pernah mencuri lagi. Di bangku SMP ataupun SMA, Bapak juga sering berpesan kepada pihak sekolah. Jangan sungkan pukul anak saya kalau dia salah. Kami orang tua mendukung.
![]() |
| Momen idulfitri 1439 H tahun 2018 lalu. (Foto dokumen keluarga) |
Kini impian Bapak melihat anaknya sekolah hingga pendidikan tinggi sudah terwujud separuh. Bapak sudah mengantar dua putranya meraih gelar sarjana. Dua putranya yang lain sudah semester akhir. Sementara putra bungsunya sudah duduk bangku kelas 8 SMP. Saya juga melanjutkan kuliah S2 meski tidak lagi biayai Bapak. Saya sangat berharap bisa mengajak Bapak dan Ibu hadir prosesi wisuda.
Tapi kini Bapak terbaring sakit. Dalam dua tahun ini, Bapak sering bolak balik rumah sakit. Ia menderita penyakit diabetes selama belas tahun sejak 2009 lalu. Bahkan belakangan penyakitnya kian bertambah. Dokter bilang ada kerusakan ginjal, jantung, hingga saraf. Ingatan Bapak juga sudah melemah.
"Bapak tidak sadar sejak semalam Nak. Sudah 12 hari dirawat di rumah sakit, kondisinya belum membaik. Dokter bolehkan Bapak pulang ke rumah. Kondisi sudah tidak bisa bangun, tidak bisa berbicara. Bapak hanya bisa menatap," kata Ibu melalui pesan Whatsapp. (*)
*Selayar, Kamis 24 Maret 2022
Tapi kini Bapak terbaring sakit. Dalam dua tahun ini, Bapak sering bolak balik rumah sakit. Ia menderita penyakit diabetes selama belas tahun sejak 2009 lalu. Bahkan belakangan penyakitnya kian bertambah. Dokter bilang ada kerusakan ginjal, jantung, hingga saraf. Ingatan Bapak juga sudah melemah.
"Bapak tidak sadar sejak semalam Nak. Sudah 12 hari dirawat di rumah sakit, kondisinya belum membaik. Dokter bolehkan Bapak pulang ke rumah. Kondisi sudah tidak bisa bangun, tidak bisa berbicara. Bapak hanya bisa menatap," kata Ibu melalui pesan Whatsapp. (*)
*Selayar, Kamis 24 Maret 2022
