Minggu, 28 Juli 2019

Puncak Tinambung, Kesejukan Alam Hutan Pinus

Ratusan peserta Maxi Day Yamaha 2019 melakukan perkemahan di Kawasan Hutan Pinus Puncak Tinambung, Minggu (28/7/2019) pagi. (Foto Sanovra JR/Tribun Timur)
AKHIR pekan sering kali dimanfaatkan untuk liburan bagi sebagian besar masyarakat. Berkumpul bersama teman-teman, pasangan, ataupun keluarga.

Bagi Anda yang memiliki kegemaran berkemahan di alam bebas, Puncak Tinambung bisa jadi pilihan. Destinasi wisata alam ini terletak di dataran tinggi Kabupaten Gowa.

Lokasinya di Kelurahan Bissoloro, Kecamatan Bungaya. Jaraknya sekitar 29 kilometer dari pusat kota Sungguminasa. Bisa ditempuh dengan kendaraan roda dua ataupun empat. Durasi tempuh memakan waktu sekitar 90 menit.

Wisata ini menawarkan kesejukan alam dari kawasan pohon pinus. Kesejukan itu sangat terasa pada pagi hari, berpadu dengan embun. Indahnya alam ciptiaan Sang Khalik.

Wisata ini memang sangat tepat dijadikan sebagai lokasi perkemahan. Berbeda dengan Kota Bunga Malino, Puncak Tinambung memiliki suhu udara yang terukur bagi kulit. Tak perlu membalut tubuh dengan jaket. Kedinginannya tidak merasuki pori-pori seperti di Malino.

Ada pula hamparan pegunungan yang memikat mata. Duduk di bawah pohon rindang dengan tiupan angin sepoi-sepoi. Sungguh indah menikmati keindahan senja ketika petang menjelang. Memandangi langit berona jingga.

Sementara pada malam hari, pengunjung bisa menikmati kerlap-kerlip lampu perkotaan. Dari Puncak Tinambung ini, Kota Makassar, Kabupaten Takalar, hingga Jeneponto bisa terlihat. Tak ketinggalan, ada pula kerlap-kerlip bintang di angkasa.

Keindahan senja di Puncak Tinambung, Kabupaten Gowa.
(Foto: Sanovra JR/Tribun Timur)
Dibandingkan dengan Pohon Pinus Malino, wisata alam ini tergolong baru. Masih seumuran jagung. Wisata ini diresmikan Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan pada akhir 2017 lalu. Jaraknya yang lebih dekat ketimbang Kota Bunga jadi kelebihan tersendiri.

Beberapa pedagang makanan pun telah tersedia. Namun suguhan menunya masih terbatas. Hanya menyediakan makanan dan minuman panas. Mulai dari pop mie, mie goreng, hingga mie instan berkuah. Ada pula beberapa makanan ringan.

Belum ada fasilitas penginapan rumah yang tersedia di sini. Ada satu rumah panggung, namun tidak disewakan. Meski demikian, wisata alam ini sudah memiliki toilet serta musala kecil untuk ibadah. Pengunjung mesti membawa tenda. Sesusai dengan konsepnya sebagai wisata alam perkemahan.

Meski jauh dari Kota, uniknya, Puncak Tinabung telah memiliki kedai kopi. Kedai kopi ini dikelola oleh anak-anak muda yang hadir sebagai barista. Harganya pun terjangkau. Mulai Rp8 ribu hingga Rp15 ribuan pergelas.

Suguhan kopi yang disediakan diracik alat kekinian seperti halnya di cafe-cafe perkotaan. Bahannya memakai biji kopi asal Enrekang. Bahkan ada menu khas. Namanya Kopi Tinam yang memakai pemanis gula aren. Bukan gula pasir ataupun susu krim kental.

"Kopi Tinam ini memiliki aroma berbeda. Ada rasa pandan berpadu pahit kopi," kata Bobi Fajar Purna (44) selaku pencipta Kopi Tinam ini.

Sesuai dengan namanya, Kopi Tinam ini memanfaatkan sumber daya alam di Tinambung, yakni sari gula aren. Sari aren biasanya dimanfaatkan sebagai bahan baku gula merah ataupun Ballo Kacci. Namun tidak dengan Bobi.

Ia pun bereksperimen dengan memadukan sari gula aren dengan biji kopi. Proses pembuatannya dilakukan dengan menguapkan serbuk biji kopi dengan aren. Hasilnya, lahirlah kopi dengan rasa pandan yang kemudian diberi nama Kopi Tinam.

"Kopi ini cocok bagi penderita penyakit gula. Karena gula aren aman penderita diabetes," sambung Bobi.

(Foto Sanovra JR/Tribun Timur)
Sementara biaya masuk ke Puncak Tinambung ini terjangkau. Hanya Rp15 ribu perorang. Pengunjung bisa menikmati kesejukan dan keindahan alam selama seharian.

Saya pribadi baru pertama kali menginjakkan kaki ke tempat wisata alam ini. Kedatangan ini untuk melaksanakan tugas peliputan Maxi Day Yamaha 2019. Saya datang bersama rekan kerja dari Tribun Timur, serta ratusan bikers Max. Ini juga kali pertama saya berkemahan di alam bebas. Tidur beralaskan tikar dalam tenda.

*Ari Maryadi - Kabupaten Gowa, 28 Juli 2019
Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar