Ramadhan, bulan kemuliaan nan penuh berkah telah datang. Riak-riak umat Muslim beribadah kian meningkat. Mereka berlomba-lomba mengumpulkan pahala. Laki-laki berbusana baju koko, perempuan dengan balutan mukenah selalu memadati Masjid di waktu Shalat.
Kali ini Ramadhan datang di pertengahan bulan Juni. Aktivitas akademik berakhir lebih cepat di kampus kami. Perkuliahan usai, masa libur tiba. Mata kuliah, dosen, daftar hadir, ataupun tugas-tugas takkan dijumpai hingga tiga bulan ke depan. Teman-teman sekampus berpulang ke kampung halaman sembari menikmati bulan Ramadhan bersama keluarga.
Ada rasa gembira akibat Ramadhan dan libur ini. Saya gembira karena terbebas dari aktivitas perkuliahan. Terbebas dari rutinitas duduk di dalam ruangan 10x10 meter mendengarkan seseorang berbicara di depan. Entah efek apa yang akan dihasilkan kelak dari rutinitas seperti itu.
Namun, Ramadhan dan libur ini turut memberi kesan tak menggembirakan. Saya takkan lagi bertemu dengan teman-teman sekampus. Termasuk salah seorang perempuan dari kampus saya itu. Perempuan yang membuatku senang bila bertemu, bercerita, ataupun sebatas melihatnya saja. Saya belum rela bila mesti tak bertemu hingga tiga bulan ke depan.
“Pulang. Jangan rindu hahaha,” kata perempuan itu dalam status BBM-nya sesaat sebelum meninggalkan kota Daeng.
“Tidak usai balik ke Makassar ya. Tidak ada yang rindu,” saya menyempatkan berkomentar, meski saya tak tahu status itu ia tujukan ke siapa.
Teman-teman sekampus telah pulang. Sementara saya masih di Makassar hingga beberapa pekan ke depan. Kerinduan dengan kampung halaman dan keluarga yang mulai mengusik jiwa mesti ditahan untuk sementara. Sudah hampir setahun saya tak pernah lagi menjalani kebersamaan dengan bapak, ibu, serta saudara-saudara. Kebersamaan dengan keluarga merupakan momen yang indah.
Ada kewajiban di lembaga kuli tinta yang mesti ditunaikan. Kewajiban yang akan ditunaikan bersama orang-orang yang menamakan diri rekan kerja. Ya, hanya rekan kerja katanya, tak lebih.
Meski jalinan kebersamaan yang terajut diangap jalinan “rekan kerja” semata. Namun kebersamaan itu mampu memberikan nuasa tersendiri. Kebersamaan yang mampu mengobati kerinduan pada keluarga dan kampung halaman. Terlepas dari sebutkannya, saya tetap menganggap mereka sebagai keluarga. Keluarga kedua setelah keluarga yang sesungguhnnya.
Selamat menunaikan ibadah puasa 1436 H.
*Ari Maryadi – 21 Juni 2015
Kali ini Ramadhan datang di pertengahan bulan Juni. Aktivitas akademik berakhir lebih cepat di kampus kami. Perkuliahan usai, masa libur tiba. Mata kuliah, dosen, daftar hadir, ataupun tugas-tugas takkan dijumpai hingga tiga bulan ke depan. Teman-teman sekampus berpulang ke kampung halaman sembari menikmati bulan Ramadhan bersama keluarga.
Ada rasa gembira akibat Ramadhan dan libur ini. Saya gembira karena terbebas dari aktivitas perkuliahan. Terbebas dari rutinitas duduk di dalam ruangan 10x10 meter mendengarkan seseorang berbicara di depan. Entah efek apa yang akan dihasilkan kelak dari rutinitas seperti itu.
Namun, Ramadhan dan libur ini turut memberi kesan tak menggembirakan. Saya takkan lagi bertemu dengan teman-teman sekampus. Termasuk salah seorang perempuan dari kampus saya itu. Perempuan yang membuatku senang bila bertemu, bercerita, ataupun sebatas melihatnya saja. Saya belum rela bila mesti tak bertemu hingga tiga bulan ke depan.
“Pulang. Jangan rindu hahaha,” kata perempuan itu dalam status BBM-nya sesaat sebelum meninggalkan kota Daeng.
“Tidak usai balik ke Makassar ya. Tidak ada yang rindu,” saya menyempatkan berkomentar, meski saya tak tahu status itu ia tujukan ke siapa.
Teman-teman sekampus telah pulang. Sementara saya masih di Makassar hingga beberapa pekan ke depan. Kerinduan dengan kampung halaman dan keluarga yang mulai mengusik jiwa mesti ditahan untuk sementara. Sudah hampir setahun saya tak pernah lagi menjalani kebersamaan dengan bapak, ibu, serta saudara-saudara. Kebersamaan dengan keluarga merupakan momen yang indah.
Ada kewajiban di lembaga kuli tinta yang mesti ditunaikan. Kewajiban yang akan ditunaikan bersama orang-orang yang menamakan diri rekan kerja. Ya, hanya rekan kerja katanya, tak lebih.
Meski jalinan kebersamaan yang terajut diangap jalinan “rekan kerja” semata. Namun kebersamaan itu mampu memberikan nuasa tersendiri. Kebersamaan yang mampu mengobati kerinduan pada keluarga dan kampung halaman. Terlepas dari sebutkannya, saya tetap menganggap mereka sebagai keluarga. Keluarga kedua setelah keluarga yang sesungguhnnya.
Selamat menunaikan ibadah puasa 1436 H.
*Ari Maryadi – 21 Juni 2015
