Sabtu, 18 Juli 2015

Selamat Lebaran

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar
Laa Ilaahaillallahu Allahu Akbar
Allahu Akbar Walillahilhamd..


Fajar mulai terlihat di langit timur. Secercah cahaya jingganya menyinari jalan. Gema takbir membahana pagi itu. Laki-laki berbusana baju koko dipadu sarung serta kopiah di kepala. Perempuan berbalut mukenah. Masing-masing memegang sehelai sajadah di tangan. Mereka bergegas melangkah menuju lapangan. Hari kemenangan umat Muslim telah tiba, Hari Raya Idul Fitri 1436 Hijriah.

Terbesit sedikit kesedihan, Ramadhan 1436 H telah pergi. Saya belum mampu melakukan ibadah dengan baik di bulan yang penuh kemuliaan ini. Ramadhan ini tak lebih baik dibanding Ramadhan tahun lalu. Jangankan ibadah shalat sunnah, shalat lima waktu pun masih bolong-bolong. Sekalipun saya tak pernah menyempatkan menyentuh apalagi membaca Al-Qur’an. Saya tak mampu mengatur waktu, antara tanggung jawab yang diemban dan ibadah kepada Sang Khaliq.

Namun syukur kucurahkan kepada-Nya. Ia masih memperkenankan saya bertemu dengan Lebaran Idul Fitri. Terlebih saya menjalaninya bersama keluarga di kampung halaman, Selayar. Menikmati ketupat, buras, daging, ayam, udang, serta masih banyak lagi yang tak bisa disebutkan satu persatu. Mmmm enaknya hehehe. 

Sumber
Lebaran di Selayar tak diraih dengan mudah. Butuh perjungan agar bisa menginjakkan kaki di kabupaten yang sering disebut pulau Tanah Doang itu. Pemudik membludak menjelang lebaran. Sementara feri sebagai kapal penyeberangan Bira-Pammatata memiliki kapasitas terbatas yang tak mampu mengangkut semuanya sekaligus. Apalagi penyebarang sejak lima hari menjelang lebaran menjadi zona merah. Ombak laut sangat besar yang membahayakan keselamatan bila nekat menyeberang.

“Kau lebaran di Bira saja Ari,” cecar salah satu teman beberapa waktu lalu.

Saya meninggalkan Makassar saat H-2 lebaran. Saya berangkat dengan mengendarai sepeda motor bersama dengan rekan SMA. Ketika melewati separuh perjalanan, motor yang saya kendarai mengalami masalah. Mesinnya tak bisa bunyi. Sempat muncul kecemasan, jangan kami ketinggalan feri. Syukur hal itu tak berlangsung lama dan cepat teratasi.

Sesaimpainya di pelabuhan Bira angin segar menghampiri. Feri akan kembali menyeberang hari itu setelah dua hari hanya bersandar di dermaga. Ombak tak lagi sebesar sebelumnya. Hanya saja pemudik membludak. Banyak penumpang yang menginap di pelabuahn. Sementara kami berada di urutan belakang.  Lima jam waktu terlewati hingga kami mendapat giliran. Setelahnya perjalanan mulai lancar hingga kami tiba di rumah masing-masing. Kecuali saya yang perlu mencari tempat tinggal keluarga yang baru.

Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

*Ari Maryadi
Share:

1 komentar: