Sinar matahari masih menyinari ruangan sore itu. Warnanya jingga keemasan. Suhu dingin merasuki kulit. Ketukan palu terdengar sebanyak tiga kali di meja. Tak berselang lama, gemuruh tepukan tangan menggema di seisi ruangan. Orang-orang berdiri dan saling berjabat tangan. Suasana yang semula tegang perlahan mulai cair. Raut wajah yang tadinya murung, lusuh; kini sedikit ceriah dihiasi senyuman.
Sementara di sudut ruangan, seorang pria berdiri dari kursi yang ia duduki. Hanya ia yang tak saling bersalaman dengan orang-orang. Baju kaos hitam dipadu jeans biru membalut tubuhnya. Tangan kirinya memegang telepon genggam biru yang ditempelkan di telinga. Ia berjalan keluar melalui pintu belakang. Ia menurungi tangga; perlahan mulai menghilang dari pandangan orang-orang di ruangan.
Suasana ruangan seketika berubah. Hilangnya pria itu mulai diketahui orang-orang. Tindankannya telah menimbulkan sebuah kejutan pula dalam benak orang-orang. Beberapa orang keluar mencoba mengejarnya. Seisi halaman ditelusuri, jalanan dijejaki. Namun, mereka tak menemukan. Pria itu menghilang meninggalkan jejak.
Ia menyelesaikan persoalan dengan cara yang berbeda. Ia memilih “lari”. Ya, ia “lari”. Bak seorang pencundang, lari dari masalah. Bahkan, ia tak memandang sedikit pun orang-orang yang berada di belakangnnya. Ada kepercayaan yang awalnya disematkan di pundaknya.
![]() |
| Sumber |
“Shinobi yang melanggar aturan memang disebut sampah, tetapi shinobi yang meninggalkan sahabatnya lebih rendah dari sampah,” kata Uchiha Obito dalam film Anime Naruto.
Selama ini saya senantiasa menaruh hormat padanya. Saya melihat, ia adalah orang yang tenang dalam bertindak. Karakter pun pendiam tak banyak berbicara. Saya pernah berbincang dengannya pada suatu malam di Pantai Bira. Kala itu ia berpesan agar mengedepankan kepentingan kolektif dibanding kepentingan pribadi. Kata-katanya saya simpan baik-baik.
Namun tindakannya sore itu sungguh sangat mengecewakan. Hal itu telah mengubah penilaian saya tentangnya. Kini saya sadar, itu merupakan tanda kalau ia hanya berpikir tentang nasib dirinya sendiri. Tentang apa yang ia suka maupun tidak ia suka. Sedikitpun tak pernah berpikir mengenai orang lain. Ya, orang-orang yang selama ini berada di belakangnya, dan percaya padanya.
***
Di suatu malam, saya bersama dengan beberapa orang. Saya diberi sebuah pertanyaan. Jawaban hanya ada dua opsi. Tanpa berpikir matang, tanpa pertimbangan apapun, saya menjawab begitu saja. Kata-kata itu terucap dari lidah saya. Gelombong suara segera terdengar di telinga orang-orang saat itu. Pikiran mereka merekam ucapan itu.
Saya tak menyadari, bila jawaban itu bila kelak dilakukan maka akan mencederai sebuah kecepercayaan. Orang-orang telah menyematkan kepercayaannya. Hal yang sangat berharga; tak tak ternilai oleh nominal rupiah.
Hingga kini, kata-kata yang saya ucapkan malam itu masih mengusik pikiran. Jawaban telah terucap dalam telah terekam dalam pikiran orang-orang saat itu. Saya tak ingin melakukan pembenaran. Saya memilih merenung atas apa yang telah saya ucapkan.
Saya menyadari masih “miskin” pengetahuan. Bahkan, saya belum memiliki karekter sebagai seorang laki-laki. Saya butuh proses untuk mengisi “kas” pengetahuan. Saya perlu belajar, belajar, dan belajar. Biarlah waktu yang akan memberi jawaban baru di masa yang akan datang.
“Kalau pertimbangan perbuatan manusia adalah suka atau tidak suka, berarti dia masih bayi. Yang tertinggi derajatnya adalah ketika dia ikhlas melakukan apa yang memang dibutuhkan untuk manfaat bagi masyarakat banyak, seberat dan setidak enak apapun. Ini merupakan tanda dewasanya manusia,” Emha Ainun Nadjib.
