Rabu, 13 Mei 2015

Pilihan Langkah

Fajar mulai menampakkan diri di langit. Jalan masih sepi dari kendaraan yang berlalu lalang. Saya keluar dari pagar sekretariat. Tak seperti biasa, kali ini saya memilih berjalan kaki menuju kampus. Ya, kampus. Sebuah tempat untuk melakukan aktivitas belajar berbalut nama kuliah. Motor Jupiter MX terparkir di halaman. Saya berlajan sembari menikmati udara pagi hari.

Selama sepekan saya tak pernah ke kampus. Selama itu pula saya tak bertemu dengan teman-teman sekelas, perkuliahan, dosen, daftar hadir, ataupun berbagai tugas-tugas kuliah. Perhelatan kegiatan nasional dari lembaga kemahasiswaan yang saya geluti mengharuskan untuk meninggalkan kuliah. Hal itu sudah menjadi konsekuensi bagi orang-orang yang bergelut di lembaga ini. Dan saya tak menyesali hal itu.

Awasko kalau ada yang pergi kuliah!” begitu kata-kata yang terlontar dari senior. Tentunya bukan meralang kuliah yang jadi niat utama mereka, akan tetapi mereka hanya ingin mengajarkan adik-adiknya untuk sadar dan menjalankan tanggung jawab yang disematkan di pundak masing-masing.

Hampir dua bulan lamanya menjalani kerja-kerja kepanitian. Tanggung jawab terhadap kegiatan sungguh menyita waktu, pikiran serta menguras tenaga. Dan pagi itu, ada nuasa berbeda yang terasa ketika saya berjalan menuju kampus. Kaki terasa ringan melangkah. Pundak tak lagi berat terasa. Tak ada lagi beban yang terpikul. Mata memangang ke langit biru yang berhiaskan awan putih.

Meski melelahkan, saya tak menyesali telah melibatkan diri dalam organisasi. Itu sudah menjadi pilihan langkah. Saya pun menyadari, pilihan ini nantinya akan mempengaruhi akademik. Apalagi perkuliahan sudah sering kali dikorbankan. Konsekuensi ke depan adalah tidak memiliki IPK (baca: Indeks Prestasi Kumulatif) yang tinggi. Bahkan pilihan ini berpotensi membuat saya jadi mahasiswa yang lama kuliah. Namun, kembali saya katakan saya tak menyesali itu. Ada berbagai hal yang saya dapatkan di sana, dan itu tidak saya dapatkan di bangku kuliah.

Sumber
IP yang tinggi akan mengantarkan Anda pada panggilan wawancara, titik. Masa depan tidak bisa dibuat atau dibangun hanya dengan selembar kertas bertuliskan transkrip atau selembar kertas ijazah,” begitu kata-kata Anies Baswedan yang sering saya tanamkan dalam diri. Hal itu pula yang kerap disampaikan senior kepada saya maupun teman-teman yang lain.

Berbagai hal saya dapatkan dari organisasi. Dua di antaranya yaitu kedewasaan dan kepemimpinan. Kedewasaan seseorang diukur dari seberapa tenang ia dalam menyikapi sebuah persoalan. Saya kerap mengamati beberapa senior yang begitu tenang menyikapi masalah. Dan dengan segera ia mencari jalan keluar. Ketika seseorang dihadapkan pada sebuah masalah, maka kedewasaan yang akan mengambil peranan penting. Buku dan teori-teori tak mampu berbuat banyak. Justru, kedewasaan dan pengalamanlah yang akan berperan. Saya menyakini itu.

Yang kedua yaitu kepemimpinan. Ya kepemimpinan. Yaitu orang yang kata-kata dan langkahnya diikuti oleh teman-teman sebayanya. Kalau Anies Baswedan bilang, pemimpin itu bukan soal kecerdasan, kharisma, komunikasi, tampilan, dan segala macam atribut yang biasa dilekatkan pada figur pemimpin. Disebut pemimpin atau tidak ini adalah soal ada atau tidaknya yang mengikuti.

Saya memiliki keinginan untuk memiliki jiwa seperti itu. Hal itu tentunya tidaklah mudah. Ada berbagai hal yang mesti dimiliki seseorang untuk menjadi seorang pemimpin. Karena dia diikuti tidak hanya sebatas diikuti begitu saja, akan tetapi dia diikuti karena adanya kepercayaan dari orang-orang yang mengikuti. Dan pemimpin itu adalah orang yang mampu membuat orang yang dipimpin bergerak, turun tangan, dan berkontribusi untuk menyelesaikan masalah. (*)

*Ari Maryadi - 13 Mei 2015
Share:

1 komentar:

  1. Seorang pemimpin juga tak pernah menganggap orang lain sebagai rekan kerjanya, bahkan anggotanya. Melainkan ia senantiasa menggandeng tangan orang lain dan dengan lantang menyebutnya sebagai...teman.

    BalasHapus