Akhir-akhir ini, masyarakat Makassar kerap disuguhkan kabar dari media massa tentang aksi brutal kawanan geng motor. Selain itu tagar #MakassarTidakAman menjadi topik pembicaraan paling populer di media sosial Indonesia.
Para kawanan geng motor beraksi dengan senjata tajam; parang, samurai, badik, busur. Tak sedikit yang telah jadi korban. Ada yang diambili harta bendanya, ada yang dilukai, bahkan ada pula yang berujung maut.
Kerabat korban tentunya akan berlinang air mata jika mengetahui kerabatnya sudah tak bernyawa, apalagi bila mengetahu cara kematiannya yang tak wajar. Ironi, manusia tak lagi diperlakukan sebagai manusia. Sungguh, nilai-nilai kemanusiaan telah mengalami kemerosotan.
Keberadaan geng motor tentunya sangat meresahkan masyarat, termasuk saya. Beberapa akivitas kadangkala terpaksa terhambat demi mengutamakan keselamatan.
Sampai saat ini kita belum melihat upaya nyata dari pemerintah yang berbuah hasil. Begitu pun pihak kepolisian. Kasus seperti ini sudah berlangsung hampir dua tahun. Namun, hingga kini aksi geng motor masih sering terjadi. Sejarah dan masa depan seseorang menjadi taruhan saat berkendara di tengah malam.
Bila kita menengok kebelakang. Pada masa Orde Baru, sekitar tahun 1983, Indonesia mengalami krisis ekonomi. Akibatnya, angka kejahatan meningkat pada waktu itu.
Barangkali rasa ketidakamanan masyarakat kala itu hampir sama dengan masyarakat Makassar saat ini.
Pemerintah Orde Baru kala itu mengambil kebijakan dengan menggunakan proyek "Penembak Misterius". Orang-orang yang dianggap penjahat, mantan penjahat, atau baru disangka penjahat, semua dibunuh. Penembak misterius ini disambut baik oleh beberapa masyarakat.
Hal itu berhasil mengurangi angka tindakan kejahatan, meskipun kalangan penegak hukum menyampaikan kecaman.
***
Beberapa waktu lalu, saat membaca buku Pemikiran Karl Marx. Buku itu menjelaskan sedikit paham tentang sosialisme dan komunisme. Marx mengemukaan, kesejahteraan manusia akan terwujud dengan menganut paham sosialisme. Hak milik pribadi atas sesuatu dihapus. Setap orang memiliki hak atas kepemilikan harta. Tak ada lagi perbedaan kaya dan miskin. Sumber segala keburukan sosial akan dihilangkan.
Saya berkhayal, bila paham sosialisme diterapkan di Indonesia. Barangkali aksi brutal geng motor tak akan terjadi. Takkan ada pertumpahan darah, takkan ada linangan air mata. Setiap indivudu tentunya tak akan merampas hak milik individu lain, karena semua memiliki hak kepemilikan atas segala sesuatu.
*Ari Maryadi
Para kawanan geng motor beraksi dengan senjata tajam; parang, samurai, badik, busur. Tak sedikit yang telah jadi korban. Ada yang diambili harta bendanya, ada yang dilukai, bahkan ada pula yang berujung maut.
Kerabat korban tentunya akan berlinang air mata jika mengetahui kerabatnya sudah tak bernyawa, apalagi bila mengetahu cara kematiannya yang tak wajar. Ironi, manusia tak lagi diperlakukan sebagai manusia. Sungguh, nilai-nilai kemanusiaan telah mengalami kemerosotan.
![]() |
| Ilustrasi. (Om Google) |
Sampai saat ini kita belum melihat upaya nyata dari pemerintah yang berbuah hasil. Begitu pun pihak kepolisian. Kasus seperti ini sudah berlangsung hampir dua tahun. Namun, hingga kini aksi geng motor masih sering terjadi. Sejarah dan masa depan seseorang menjadi taruhan saat berkendara di tengah malam.
Bila kita menengok kebelakang. Pada masa Orde Baru, sekitar tahun 1983, Indonesia mengalami krisis ekonomi. Akibatnya, angka kejahatan meningkat pada waktu itu.
Barangkali rasa ketidakamanan masyarakat kala itu hampir sama dengan masyarakat Makassar saat ini.
Pemerintah Orde Baru kala itu mengambil kebijakan dengan menggunakan proyek "Penembak Misterius". Orang-orang yang dianggap penjahat, mantan penjahat, atau baru disangka penjahat, semua dibunuh. Penembak misterius ini disambut baik oleh beberapa masyarakat.
Hal itu berhasil mengurangi angka tindakan kejahatan, meskipun kalangan penegak hukum menyampaikan kecaman.
***
Beberapa waktu lalu, saat membaca buku Pemikiran Karl Marx. Buku itu menjelaskan sedikit paham tentang sosialisme dan komunisme. Marx mengemukaan, kesejahteraan manusia akan terwujud dengan menganut paham sosialisme. Hak milik pribadi atas sesuatu dihapus. Setap orang memiliki hak atas kepemilikan harta. Tak ada lagi perbedaan kaya dan miskin. Sumber segala keburukan sosial akan dihilangkan.
Saya berkhayal, bila paham sosialisme diterapkan di Indonesia. Barangkali aksi brutal geng motor tak akan terjadi. Takkan ada pertumpahan darah, takkan ada linangan air mata. Setiap indivudu tentunya tak akan merampas hak milik individu lain, karena semua memiliki hak kepemilikan atas segala sesuatu.
*Ari Maryadi

sosialisme mi kah problem solvingnya kanda? #pembacakurangpuas
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus