Jumat, 30 Januari 2015

Berkunjung ke Tanah Enrekang

Matahari tak menampakkan sinarnya. Awan kelabu menutupi matahari, menyelimuti langit. Gerimis hujan turun membasahi bumi.

Saya segera menaiki mobil, bergabung dengan empat orang lainnya. Mobil melaju meninggalkan Pinisi. Kami menuju ke Kabupaten Enrekang.

Sepanjang perjalanan, tak henti-henti saya bertanya pada diri sendiri. Saya terus berkhayal seperti apa itu Enrekang. Maklum, belum pernah sekalipun saya menginjakkan kaki di sana. "Bagaimana itu di' Enrekang?" gumamku dalam hati.

Perjalanan rupanya amatlah jauh. Dibutuhkan kesabaran yang tinggi. Selama delapan jam kami berada di dalam mobil. Hingga akhirnya kami tiba pun tiba.

Rasa penasaran akhirnya hilang. Enrekang memiliki panorama alam yang memikat mata. Pegunungan hijau yang menjulang. Dapat diamati langsung dari sana. Sungguh indah ciptaan Tuhan.


Berfoto dulu. (dok. pribadi)
Di pagi hari suhu amatlah dingin. Meski telah memakai sarung, dingin masih terasa ke badan. Tak hanya itu, air kolam bagai air freezer kulkas. Aku mencoba mandi. Rasa bagai mandi es.

Tak lupa, kami menikmati makanan khas Enrekang. Kami disuguhi makanan semacam tahu. Kata orang, makanan itu terbuat dari susu asli ternakan. Dangke bede' namanya.

Ada pula hidangan Nasu Cemba. Mulanya saya penasaran seperti makanan itu. Tapi begitu disajikan, rupanya makanan itu adalah daging kerbau yang berkuah. Ya mirip-miriplah dengan makanan Makassar, Konro'.

Kami juga menikmati berbagai buah-buahan. Mangga, salak, dan durian. Mmm, sungguh enak rasanya. Manis. Buah-buahan langsung dari kebun.

Foto bersama. (dok. pribadi)
Sekian cerita tentang kunjungan dari tanah Enrekang. Semoga lain kesempatan dapat menginjakkan kaki ke sana kembali. Wassalam.

*Ari Maryadi - 31 Januari 2015
Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar