Minggu, 28 Desember 2014

Himaprodi PBSI; Penyatu Kebersamaan

Kaki telah lelah untuk melangkah. Perut kelaparan. Badan telah pegal. Kami tetap berjalan. Menghampiri mobil ataupun motor satu per satu. Demi uluran tangan dari seorang derma. Canda dan tawa masih sempat terjalin di antara kita.

Di saat mahasiswa lain menghabiskan waktu untuk bersantai. Kami memilih menghabiskan waktu di perempatan lampu merah. Sebagian lainnya menghiasi pohon. Demi sebuah tujuan. Merayakan hari kelahiranmu yang ke-11.

Awalnya kami merupakan orang-orang yang lahir dari "rahim" yang sama Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia tapi tak saling kenal. Tapi engkau datang menyatukan kami; mengajarkan kami tentang rasa kebersamaan. Saling berpegangan tangan di kala "badai" menerjang.

Berbagai rintangan silih berganti menghampiri. Satu hal yang rintangan paling berat, yaitu mencari dana. Tidak adanya bantuan dari pihak birokrasi membuat kami harus berjuangan ekstra keras. Berbagai langkah kami tempuh. Berjualan kue, roti, hingga mengamen di jalan. Bahkan, salah satu diantara kami "tumbang" di tengah perjalanan.

"Semangatki dek. Keras memang perjuangan," kata koordinator steering kami yang senantiasa memberi semangat.

Kami tetap saling bahu membahu menghadapi semua itu. Semangat dan kebersamaan memberi kekuatan untuk menghadapinya. Indahnya sebuah pertemanan.
Foto bersama.
"Awaski sudah kegiatan ini tidak disapa-sapa maka di kampus belah," kata salah satu teman yang berpesan ke lain.

Satu hal yang menyenangkan bagiku adalah saat tertawa bersama orang-orang. Tawa yang menjalin kebersamaan. Tawa yang menghilangkan bedan sejenak. Di akhir saya ingin mengutip tulisan dari seorang senior saya "Teman itu Peduli".

“Kapan seseorang akan mati? Saat dia terkena tembakan? TIDAK!! Saat dia terkena penyakit mematikan? TIDAK!! Saat dia meminum sup dari jamur beracun? Juga TIDAK..
Seseorang akan mati apabila dia telah dilupakan...” --Dr.Hiluluk, One Piece--
*Ari Maryadi
Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar