Kita adalah orang-orang yang tak saling kenal. Profesi datang mempertemukan kita. Menyatukan kita dalan sebuah ikatan.
Awalnya 58 orang mengajukan diri bergabung. Seleksi alam menggugurkan mereka yang tak mampu bertahan satu per satu. Bahlan baru-baru ini satu di antara kita telah melangkahkan kaki ke pintu keluar sembari melambaikan tangan. Ia memilih mencari kehidupan baru di luar sana. Tim kesebelasan kini tinggal 10 orang saja.
Awalnya 58 orang mengajukan diri bergabung. Seleksi alam menggugurkan mereka yang tak mampu bertahan satu per satu. Bahlan baru-baru ini satu di antara kita telah melangkahkan kaki ke pintu keluar sembari melambaikan tangan. Ia memilih mencari kehidupan baru di luar sana. Tim kesebelasan kini tinggal 10 orang saja.
![]() |
| Foto magang kami saat perayaan Harlah ke-38 LPPM Profesi UNM lalu. (Foto: Sofyan) |
Tak mudah memang "hidup" di Profesi. Di sini "hidup" sangatlah keras. 24 jam dalam sehari mungkin tidaklah cukup. Mencari berita, wawancara dengan narasumber, dicaci narasumber, diburu deadline, bahkan dicaci maki oleh pemimpin redaksi.
Saya berbagung dengan lembaga kulih tinta ini karena ingin belajar. Dalam perjalanan, ternyata tak hanya ilmu yang kuperoleh. Ada kebersamaan yang terjalin. Hal itu yang membuatku bertahan hingga kini. Ada canda tawa. Canda yang menjalin kebersamaan. Maccala' lah!!
Mungkin masih tersimpan dalam ingatan kita (kalau saya tak bakal terlupa) sepenggal kenangan saat magang. Kita menjadi "buronan" redaktur, Khaerul Mustaan. "We suntili kenapa belum ada berita masuk di folder penerbitan. Awas memangko kalau sudah rapat redaksi masih kosong kulihat," bagitulah isi SMSnya yang kita terima bersama.
Hal itu mendatangkan rasa takut untuk menginjakkan kaki di redaksi. Bahkan salah satu di antara kita mengurungkan niatnya mengambil sepatu miliknya di redaksi. "Kak Ela, ada Kak Katto di redaksi? Mauka ambil sepatuku," kurang lebih begitu bunyi SMSnya. Haha lucu ya bila diingat kembali.
Ada kenyamanan saat berada di redaksi. Entah ini pengaruh sihir atau apa. Padahal di redaksi kita hanya tidur beralaskan tikar, sedangkan di rumah ada kasur dan bantal empuk. Kalau kerena wifi gratis, tidaklah tepat. Karena, smarphone ini bisa juga mengakses internet.
Profesi jugalah yang membuat saya berlebaran tidak bersama dengan kedua orang tua. Itu merupakan yang pertama kali kualami. Tetapi, redaksi memberikan kenyamanan yang tak kalah dengan di kampung. Padahal redaksi tak memberikan baru baru, daging, buras ataupun ketupat.
Kini, 1 tahun 3 bulan telah kita lalui bersama. Perlajanan masih amatkah panjang. Beberapa kali di antara kita mencoba melangkah ke pintu keluar, tapi uluran tangan bersama menariknya kembali. Oleh karena itu, eratkan pegangan tanganmu kawan. Cukuplah ARM terakhir yang melambaikan tangan. Tongkat estafet harus dibawa berlari bersama.
Cita-cita kuli tinta 38 tahun ini harus tetap dilanjutkan. Media informatif, dan alat perjuangan mahasiswa dalam mengawal dinamika kampus orange.
"Senior-senior berdarah-darah perjuangkan ini Profesi. Masa' mati di angkatanmu!" pesan salah satu dewan pendamping beberapa waktu lalu.
Saya berbagung dengan lembaga kulih tinta ini karena ingin belajar. Dalam perjalanan, ternyata tak hanya ilmu yang kuperoleh. Ada kebersamaan yang terjalin. Hal itu yang membuatku bertahan hingga kini. Ada canda tawa. Canda yang menjalin kebersamaan. Maccala' lah!!
Mungkin masih tersimpan dalam ingatan kita (kalau saya tak bakal terlupa) sepenggal kenangan saat magang. Kita menjadi "buronan" redaktur, Khaerul Mustaan. "We suntili kenapa belum ada berita masuk di folder penerbitan. Awas memangko kalau sudah rapat redaksi masih kosong kulihat," bagitulah isi SMSnya yang kita terima bersama.
Hal itu mendatangkan rasa takut untuk menginjakkan kaki di redaksi. Bahkan salah satu di antara kita mengurungkan niatnya mengambil sepatu miliknya di redaksi. "Kak Ela, ada Kak Katto di redaksi? Mauka ambil sepatuku," kurang lebih begitu bunyi SMSnya. Haha lucu ya bila diingat kembali.
Ada kenyamanan saat berada di redaksi. Entah ini pengaruh sihir atau apa. Padahal di redaksi kita hanya tidur beralaskan tikar, sedangkan di rumah ada kasur dan bantal empuk. Kalau kerena wifi gratis, tidaklah tepat. Karena, smarphone ini bisa juga mengakses internet.
Profesi jugalah yang membuat saya berlebaran tidak bersama dengan kedua orang tua. Itu merupakan yang pertama kali kualami. Tetapi, redaksi memberikan kenyamanan yang tak kalah dengan di kampung. Padahal redaksi tak memberikan baru baru, daging, buras ataupun ketupat.
Kini, 1 tahun 3 bulan telah kita lalui bersama. Perlajanan masih amatkah panjang. Beberapa kali di antara kita mencoba melangkah ke pintu keluar, tapi uluran tangan bersama menariknya kembali. Oleh karena itu, eratkan pegangan tanganmu kawan. Cukuplah ARM terakhir yang melambaikan tangan. Tongkat estafet harus dibawa berlari bersama.
![]() |
| (dok. Ksb) |
"Senior-senior berdarah-darah perjuangkan ini Profesi. Masa' mati di angkatanmu!" pesan salah satu dewan pendamping beberapa waktu lalu.
Tanpa Anda kami belum lengkap.
--- Ari Maryadi --- 1 Januari 2015


menangis betuulankaa :(
BalasHapus(y)
BalasHapusLanjutkan... :)