Setiap orang tentunya memiliki mimpi masing-masing. Khayalan yang ingin diwujudkan jadi kenyataan. Sebuah rencana untuk mengapai sesuatu. Kadangkala mimpi berbuah manis. Namun tak jarang malah sebaliknya. Bila harapan tak kenyataan tak sejalan, acap kali menimbulkan kekecewaan.
Di sebuah malam, saya bersama rekan-rekan kampus sedang menggelar kegiatan latihan kepemimpinan. Beberapa teman tengah sibuk menyajikan makanan di dapur. Teman lain sedang asyik menikmati materi pelatihan.
Saya sibuk sendiri menanti sebuah pengumuman. Rasa penasaran, gelisah, dan antusias berkecamuk dalam diri. Melalui Smaortphone yang saya pinjam dari salah satu teman, saya mengakses dunia maya. Saya membuka akun twitter resmi panitia.
Deretan kicauan saya telusuri. Daftar nama tim yang dinyatakan lulus saya amati. Namun, nama tim yang saya cari tak tertera di sana. Saya amati kembali, tetap tak ada.
Sangat disayangkan. Keikutsertaan lembaga ini beberapa tahun belakangan terhenti di kami. Sejarah telah mencatat. Bukan sejarah bernilai prestasi, melainkan sejarah kelam. Sungguh ironi.
"Sabar saja dek. Tidak semua keinginan jadi kenyataan," salah satu senior coba mencoba memberikan semangat.
Sebenarnya saya malu. Saya telah mengecewakan orang-orang yang telah mengajari saya dulu. Kegagalan saya mungkin jadi bagian kegagalan mereka juga. Apalagi, jauh-jauh hari yang lalu saya selalu diminta untuk menyiapkan diri baik-baik.
***
Khayalan saya terbang melayang-layang. Saya membayangkan berada di atas awan dalam kendaraan bersayap menyerupai burung. Menikmati keindahan alam dari langit. Hingga tiba di sebuah kampus dan bertemu mahasiswa dari berbagai pelosok negeri. Saya membawa nama lembaga untuk menimba ilmu dan beradu pengetahuan.
Tiba-tiba khayalan membuyar. Suara tawa dari senior dan teman-teman menyadarkan kembali. Mereka mengejek perihal cerpen yang saya tulis beberapa waktu lalu. Saya merasa risi. Menanggapinya dengan senyum kecut. Saya menyandarkan kepala ke belakang dengan berbantalkan tangan. Mata memandang jauh ke angkasa. Pikiran berkhayal kembali.
*Ari Maryadi - 30 Maret 2015
Di sebuah malam, saya bersama rekan-rekan kampus sedang menggelar kegiatan latihan kepemimpinan. Beberapa teman tengah sibuk menyajikan makanan di dapur. Teman lain sedang asyik menikmati materi pelatihan.
Saya sibuk sendiri menanti sebuah pengumuman. Rasa penasaran, gelisah, dan antusias berkecamuk dalam diri. Melalui Smaortphone yang saya pinjam dari salah satu teman, saya mengakses dunia maya. Saya membuka akun twitter resmi panitia.
Deretan kicauan saya telusuri. Daftar nama tim yang dinyatakan lulus saya amati. Namun, nama tim yang saya cari tak tertera di sana. Saya amati kembali, tetap tak ada.
Sangat disayangkan. Keikutsertaan lembaga ini beberapa tahun belakangan terhenti di kami. Sejarah telah mencatat. Bukan sejarah bernilai prestasi, melainkan sejarah kelam. Sungguh ironi.
"Sabar saja dek. Tidak semua keinginan jadi kenyataan," salah satu senior coba mencoba memberikan semangat.
Sebenarnya saya malu. Saya telah mengecewakan orang-orang yang telah mengajari saya dulu. Kegagalan saya mungkin jadi bagian kegagalan mereka juga. Apalagi, jauh-jauh hari yang lalu saya selalu diminta untuk menyiapkan diri baik-baik.
***
Khayalan saya terbang melayang-layang. Saya membayangkan berada di atas awan dalam kendaraan bersayap menyerupai burung. Menikmati keindahan alam dari langit. Hingga tiba di sebuah kampus dan bertemu mahasiswa dari berbagai pelosok negeri. Saya membawa nama lembaga untuk menimba ilmu dan beradu pengetahuan.
![]() |
| (Google) |
*Ari Maryadi - 30 Maret 2015

Semoga menjadi pelajaran penting! He he
BalasHapus