Rabu, 08 April 2015

Ibu

Bulan tak bersinar malam ini. Langit berwarna hitam pekat tanpa hiasan bintang. Hujan berderai pelan. Saya baru saja menyelesaikan tugas liputan di redaksi. Kali ini saya hendak pulang ke rumah. Sudah hampir satu bulan saya tak pernah menginjakkan kaki di sana. Aktivitas sebagai pers mahasiswa membuat saya tak memiliki waktu luang.

“Mauko kemana? Bermalam mako!” salah seorang teman bertanya.

“Mauka pulang dulu. Ada maceku di rumah,” jawabku singkat. Ibu datang ke Makassar sejak dua hari yang lalu. Besok pagi dia akan pulang ke Selayar kembali. Hampir setahun saya tak pernah menemuinya. Saya ingin melepas rindu. Kali terkahir bertemu dengannya di Lebaran Idul Fitri lalu. Setelahnya tak pernah lagi.

Di luar gerimis hujan mengguyur kota. Dengan mengendarai sepeda motor saya bergerak meninggalkan Mallengkeri menuju Gowa. Rintik hujan yang mengenai jaket tak sedikitpun membuat saya mengurangi laju motor. Semakin cepat. Semakin cepat.

Di tengah perjalanan. Hujan rupanya berderai deras. Orang-orang berhenti untuk berteduh. Sebagian lagi membuka bagasi motor untuk mengenakan mantel. Saya ikut berteduh. Hampir dua jam saya menanti. Namun, tak ada sedikitpun pertanda hujan berhenti. Waktu telah hampir pukul 23:00. Saya memutuskan untuk melaju kembali.

Butir-butir air jatuh mengenai badan. Pakaian mulai basah dan telah terasa di kulit. Dinginnya malam ikut merasuk. Ini hanya air. Tak mengapa bila basah. Pikirku dalam hati.

Setiba di rumah, ibu sudah tertidur lelap. Ia berbaring di atas kasur. Selehai sarung menyelimuti kaki hingga badannya. Kepalanya disandarkan pada sebuah empukan kapuk kotak berjahit.

Ibu saya.
(dok. pribadi)
Ibu sudah tidak muda lagi. Masih membekas dalam ingatan, saya kerap membuatmu marah kala saya kecil dulu. Kau pernah dipanggil guru ke sekokah akibat kenakalan saya. Kau juga pernah meneteskan air mata akibat ulah saya.

Saya masih ingat. Ketika saya sakit, kau senantiasa menemani. Saya hanya bisa berbaring di tempat tidur. Kau mengompres kepala saya dengan kain basah.

Kini saya mulai beranjak dewasa. Saya tak bisa lagi sering bertemu denganmu. Memijat-mijat kakimu bila engkau lelah. Menimbakan air sumur untuk kau masak. Memanjatkan kelapa untuk engkau buat santan. Ataupun membantumu membuat kopra di kebun.

Maaf ibu. Mungkin saya hanya bisa pulang sekali setahun. Saya ingin mengejar impian. Kelak saya ingin membuatmu bangga bahwa saya dilahirkan dari rahimmu.

*Ari Maryadi

Share:
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar