![]() |
| Suasana pelataran sore itu. (Foto: Ari Maryadi) |
Tempat itu menjadi pusat perkantoran pimpinan kampus. Mulai dari rektor hingga jajarannya. Meski megah, tak ada ruang perkuliahan bagi mahasiswa di tiap lantai.
Di bagian bawah ada pelataran dengan sederet tiang penyanggah. Sebuah kolam ikan berair keruh berada di bagian tengah. Jalan melingkar mengelilingi. Puluhan motor berjejer di bagian belakang. Serta angin sepoi-sepoi yang bertiup pelan.
Di tempat itulah mahasiswa gemar bernaung. Mereka memiliki aktivitas berbeda-beda. Ada yang duduk menyandarkan diri di tiang. Ada yang membenamkan pikiran dengan membaca buku. Ada yang sibuk berdiskusi dengan sesamanya. Ada pula yang meluangkan waktu sebatas beristirahat.
Namun, di suatu sore, tempat itu tampak sepi. Tak seperti biasanya. Tak ada lagi aktivitas yang berlangsung kala itu. Hanya secercah cahaya berona jingga yang terlihat. Matahari hendak pulang ke peraduannya. Sedang mahasiswa telah mendahului.
Saya berada di bagian belakang, sendirian. Awalnya saya hendak pulang. Namun, saat memandang pelataran gedung itu, ada sesuatu yang terbersit. Sesuatu yang membekas dalam ingatan.
Tempat itu pernah menyajikan nuansa tersendiri. Tempat yang dijadikan ruang berkumpul, bercerita, ataupun bercanda oleh para jurnalis mahasiswa. Membincangkan hasil liputan. Atau bercerita mengenai narasumber yang galak. Terkadang di tempat itu pula lahir ide-ide baru.
Di lain waktu, para jurnalis menikmati suguhan lagu sekelompok paduan suara. Kekompakan mereka memberi alunan merdu. Telinga dibuat manja oleh suaranya. Mata dibuat terpikat oleh wajah anggun personil perempuan.
Namun, sore itu hanya ada kesunyian. Mata memandang ke setiap penjuru. Hampa. Sepi. Suasana mulai gelap. Langit akan segera berganti gaun. Saya begegas pulang menuju redaksi. (*)
*Ari Maryadi - 22 Agustus 2015
