Saya kuliah di Fakultas Batu dan Sungai Universitas Negeri Mangga, kamu pun begitu. Saya dan kamu berasal dari prodi yang sama. Namun saya baru mengenalmu di semester tiga, melalui kegiatan perayaan hari lahir lembaga kemasiswaan. Saya tahu namamu dari salah seorang teman ketika ia meminta memasukkan namamu ke dalam daftar kepanitian.
"PING!!! Aldi, kasih masuk juga Anggun di kepanitian," pinta teman itu kepada saya melalui pesan BBM.
Nama-nama yang terdaftar dalam kepanitian memang cukup sedikit. Jadi saya turut menyertakan namamu. Esok harinya rapat perdana dimulai. Tapi kamu tak hadir. Saya beranggapan kamu mungkin seperti lain, tidak sepenuhnya ingin ikut kegiatan ini.
Pada malam hari saya sedang membaca aktivitas BBM di telepon genggemku. Kau sudah masuk dalam daftar kontakku setelah temanku mengirin pinmu melalui pesan berantai. Satu persatu status teman saya baca. Saya melihat status dari kontak bernama Anggun. Ya, Anggun Lestari. Saya menyempatkan berkomentar.
"Rapat perdana tadi. Kenapa tidak datangki?" tanyaku sebatas menyapa. Bagiku tiap panitia mesti mengetahui perihal ketidakdatangan rekannya.
"Maaf sakitka jadi tidak bisaka datang," jadi kamu tidak datang lantaran sakit.
"Oiya tidak apa-apa. Lekas sembuh," saya menyemangati. Hal seperti itu memang sering saya lakukan dengan temanku.
"Terima kasih," kau membalas.
***
Beberapa hari kemudian, saya menemui rekan-rekan panitia di bawah pohon beringin kampus untuk membincangkan kepanitian. Ada perempuan yang tak pernah saya lihat dalam rapat sebelumnya. Rupanya perempuan itu adalah kamu, Anggun.
"Jadi perempuan ini yang bernama Anggun," gumamku dalam hati.
Mataku memandang ke arahmu. Badannya tidak tinggi. Ia agak lebih kecil dibanding dengan perempuan lain. Wajahnya cantik. Senyumnya manis. Ia berbalut pakaian putih dengan kerudung biru dipadu dengan rok biru bergaris. Ah sudah, jangan terlalu lama memandangnya. Saya memalingkan pandangan untuk berhenti melihatmu. Saya melihat ke koridor, ke kantin, ke ruang DG, ke pohon, tapi pandanganku kembali ke wajahmu. Sungguh cantik.
Kau yang melihatku malah tertawa. Terutama dengan sepatuku; sebelah memakai tali sebelah tidak. Kadang tiap kali saya berbicara, kamu selalu menanggapinya dengan tertawa. "Aldi lucu. Aldi lucu," begitu kau memanggilku.
Setelah itu, saya perlahan mulai akrap denganmu. Apalagi setelah peristiwa tawuran antar fakultas di kampus pada suatu sore. Kedua kubu saling lempar, tapi kamu bersama panitia perempuan lain baru mencoba keluar kampus. Kamu terlihat ketakutan. Saya yang melihatmu dari kejauhan bergegas ke arahmu; menemani sampai ke luar. Peristiwa itu saya simpan baik-baik dalam ingatan, menjadi sebuah kenangan tersendiri.
Perkenalan saya denganmu terus berlanjut. Setiap usai rapat, saya acap kali menawarkan untuk mengantarmu pulang. Kau menerimanya. Ah saya sudah bertindak tidak profesional sebagai panitia. Banyak panitia yang tidak punya kendaraan, tapi hanya kamu yang sering saya tawari.
BBM sebagai alat komunikasi rupanya memiliki manfaat yang baik. Berkatnya, saya bisa sering berkomukasi denganmu. Kau juga sering menanyakan aktivitas keseharianku. Tugas kuliah yang sering saya acuhkan, kau bantu mengerjakannya. Selain itu, kau juga acapkali membangunkanku bila saya memiliki kuliah pagi. Saya senang denganmu. Bahkan, saya mulai jatuh hati.
Saya tidak menyangka kita bisa akrab secepat itu. Saya lebih akrap dengan denganmu dibanding teman-temanku yang lain. Saya juga tak menyangka akan jatuh hati padamu. Padahal, semester lalu saya pernah kesal terhadapmu. Saat itu, saya belum kenal dan tahu namamu.
***
"PING!!! Aldi, kasih masuk juga Anggun di kepanitian," pinta teman itu kepada saya melalui pesan BBM.
Nama-nama yang terdaftar dalam kepanitian memang cukup sedikit. Jadi saya turut menyertakan namamu. Esok harinya rapat perdana dimulai. Tapi kamu tak hadir. Saya beranggapan kamu mungkin seperti lain, tidak sepenuhnya ingin ikut kegiatan ini.
Pada malam hari saya sedang membaca aktivitas BBM di telepon genggemku. Kau sudah masuk dalam daftar kontakku setelah temanku mengirin pinmu melalui pesan berantai. Satu persatu status teman saya baca. Saya melihat status dari kontak bernama Anggun. Ya, Anggun Lestari. Saya menyempatkan berkomentar.
"Rapat perdana tadi. Kenapa tidak datangki?" tanyaku sebatas menyapa. Bagiku tiap panitia mesti mengetahui perihal ketidakdatangan rekannya.
"Maaf sakitka jadi tidak bisaka datang," jadi kamu tidak datang lantaran sakit.
"Oiya tidak apa-apa. Lekas sembuh," saya menyemangati. Hal seperti itu memang sering saya lakukan dengan temanku.
"Terima kasih," kau membalas.
***
Beberapa hari kemudian, saya menemui rekan-rekan panitia di bawah pohon beringin kampus untuk membincangkan kepanitian. Ada perempuan yang tak pernah saya lihat dalam rapat sebelumnya. Rupanya perempuan itu adalah kamu, Anggun.
"Jadi perempuan ini yang bernama Anggun," gumamku dalam hati.
Mataku memandang ke arahmu. Badannya tidak tinggi. Ia agak lebih kecil dibanding dengan perempuan lain. Wajahnya cantik. Senyumnya manis. Ia berbalut pakaian putih dengan kerudung biru dipadu dengan rok biru bergaris. Ah sudah, jangan terlalu lama memandangnya. Saya memalingkan pandangan untuk berhenti melihatmu. Saya melihat ke koridor, ke kantin, ke ruang DG, ke pohon, tapi pandanganku kembali ke wajahmu. Sungguh cantik.
![]() |
| Ilustrasi. (Google) |
Setelah itu, saya perlahan mulai akrap denganmu. Apalagi setelah peristiwa tawuran antar fakultas di kampus pada suatu sore. Kedua kubu saling lempar, tapi kamu bersama panitia perempuan lain baru mencoba keluar kampus. Kamu terlihat ketakutan. Saya yang melihatmu dari kejauhan bergegas ke arahmu; menemani sampai ke luar. Peristiwa itu saya simpan baik-baik dalam ingatan, menjadi sebuah kenangan tersendiri.
Perkenalan saya denganmu terus berlanjut. Setiap usai rapat, saya acap kali menawarkan untuk mengantarmu pulang. Kau menerimanya. Ah saya sudah bertindak tidak profesional sebagai panitia. Banyak panitia yang tidak punya kendaraan, tapi hanya kamu yang sering saya tawari.
BBM sebagai alat komunikasi rupanya memiliki manfaat yang baik. Berkatnya, saya bisa sering berkomukasi denganmu. Kau juga sering menanyakan aktivitas keseharianku. Tugas kuliah yang sering saya acuhkan, kau bantu mengerjakannya. Selain itu, kau juga acapkali membangunkanku bila saya memiliki kuliah pagi. Saya senang denganmu. Bahkan, saya mulai jatuh hati.
Saya tidak menyangka kita bisa akrab secepat itu. Saya lebih akrap dengan denganmu dibanding teman-temanku yang lain. Saya juga tak menyangka akan jatuh hati padamu. Padahal, semester lalu saya pernah kesal terhadapmu. Saat itu, saya belum kenal dan tahu namamu.
***
Semester dua lalu di sebuah siang, saya bersama rekan-rekan sekelas baru saja selesai kuliah. Beberapa teman memilih untuk langsung pulang ke kost. Hanya beberapa yang menyempatkan untuk tetap tinggal. Termasuk saya. Seorang perempuan melintas di depan kelas. Ia memanggil salah satu teman.
"Ipin. Ipin," perempuan itu memanggil sambil melambaikan tangan.
"Iya..," sahut temanku. Temanku berjalan ke arah perempuan itu. Saya ikut dari belakang.
"Ipin, ada buku ta Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie?" perempuan itu bertanya.
"Saya ada," saya menjawab pertanyaan yang ditanyakan ke Ipin. Saya memang punya, jadi saya menjawab.
"Tidak bertanya ka sama kita," seketika ia menjawab. Kata-katanya menusuk ke hati. Saya pun memilih pergi dari keduanya. Kelak, perempuan itu akan jadi seseorang yang dekat.
***
Mahasiswa Fakultas Batu dan Sungai akan mengadakan pementasan drama Sabtu pekan ini. Pementasa itu merupakan final mata kuliah. Panitianya memberi kesempatan bagi mahasiswa lain untuk menonton.
"Aldi, pergi ki menonton pementasan nanti nah," kau mengajakku. Saya tak menyangka kau mengajakku.
"Iya..," saya menjawab singkat. Kata-katamu telah membuatku gugup.
"Serius? Jadi beli maka tiket dua nah," bahkan kau ingin mentraktir untuk membeli tiketnya. Saya malu. Saya ingin melakukan itu, tapi dompetku telah kosong sehabis mentraktir teman di warkop beberapa waktu lalu.
"Iy..iya. Eh, satu saja dibeli. Ada undanganku saya," saya baru ingat. Panitia mengudangku untuk meliput. Jadi saya tidak perlu beli tiket.
"Oke Aldi. Jemput ka di kost nanti nah."
Telepon berakhir. Jantung yang tadinya berdetak kencang perlahan mulai stabil kembali. Saya sangat senang saat itu. Saya berencana menyampaikan perasaanku padamu di momen itu.
***
Matahari berada di singgasananya. Waktu menunjukkan pukul 10:30. Malam ini saya memiliki janji untuk menonton pementasan denganmu. Namun, saya juga memiliki agenda rutin tiap Sabtu, rapat lembaga di sekretariat. Saya bingung memilih. Mana yang mesti saya pilih diantara keduanya. Andai saya bisa memakai jurus Kagebunsin Nojutsu milik Naruto. Masalah ini pasti dengan mudah dapat dipecahkan.
Setelah lama berpikir, saya memutuskan untuk mengikuti rapat dulu. Saya berharap rapat cepat usai, dan saya bisa pergi bersamamu. Namun, rapat berlangsung lama dan berakhir pukul 20:15. Saya gagal menepati janjiku denganmu.
Esok harinya, kau pulang ke kampungmu, Sinjai. Saya belum menyempatkan bertemu denganmu sebelum kau pergi. Apalagi semalam tindakanku yang tak menepati janji mungkin telah membuatmu kecewa. Saya hanya bisa mengirim pesan selamat jalan melalui BBM sambil tersenyum.
*Ari Maryadi - 23 Maret 2015
"Ipin. Ipin," perempuan itu memanggil sambil melambaikan tangan.
"Iya..," sahut temanku. Temanku berjalan ke arah perempuan itu. Saya ikut dari belakang.
"Ipin, ada buku ta Catatan Seorang Demonstran Soe Hok Gie?" perempuan itu bertanya.
"Saya ada," saya menjawab pertanyaan yang ditanyakan ke Ipin. Saya memang punya, jadi saya menjawab.
"Tidak bertanya ka sama kita," seketika ia menjawab. Kata-katanya menusuk ke hati. Saya pun memilih pergi dari keduanya. Kelak, perempuan itu akan jadi seseorang yang dekat.
***
Mahasiswa Fakultas Batu dan Sungai akan mengadakan pementasan drama Sabtu pekan ini. Pementasa itu merupakan final mata kuliah. Panitianya memberi kesempatan bagi mahasiswa lain untuk menonton.
"Aldi, pergi ki menonton pementasan nanti nah," kau mengajakku. Saya tak menyangka kau mengajakku.
"Iya..," saya menjawab singkat. Kata-katamu telah membuatku gugup.
"Serius? Jadi beli maka tiket dua nah," bahkan kau ingin mentraktir untuk membeli tiketnya. Saya malu. Saya ingin melakukan itu, tapi dompetku telah kosong sehabis mentraktir teman di warkop beberapa waktu lalu.
"Iy..iya. Eh, satu saja dibeli. Ada undanganku saya," saya baru ingat. Panitia mengudangku untuk meliput. Jadi saya tidak perlu beli tiket.
"Oke Aldi. Jemput ka di kost nanti nah."
Telepon berakhir. Jantung yang tadinya berdetak kencang perlahan mulai stabil kembali. Saya sangat senang saat itu. Saya berencana menyampaikan perasaanku padamu di momen itu.
***
Matahari berada di singgasananya. Waktu menunjukkan pukul 10:30. Malam ini saya memiliki janji untuk menonton pementasan denganmu. Namun, saya juga memiliki agenda rutin tiap Sabtu, rapat lembaga di sekretariat. Saya bingung memilih. Mana yang mesti saya pilih diantara keduanya. Andai saya bisa memakai jurus Kagebunsin Nojutsu milik Naruto. Masalah ini pasti dengan mudah dapat dipecahkan.
Setelah lama berpikir, saya memutuskan untuk mengikuti rapat dulu. Saya berharap rapat cepat usai, dan saya bisa pergi bersamamu. Namun, rapat berlangsung lama dan berakhir pukul 20:15. Saya gagal menepati janjiku denganmu.
Esok harinya, kau pulang ke kampungmu, Sinjai. Saya belum menyempatkan bertemu denganmu sebelum kau pergi. Apalagi semalam tindakanku yang tak menepati janji mungkin telah membuatmu kecewa. Saya hanya bisa mengirim pesan selamat jalan melalui BBM sambil tersenyum.
*Ari Maryadi - 23 Maret 2015

Ah, hati saya juga ikut berdebar membaca cerita ini... :)
BalasHapus*Serius, saya tak hentinya tersenyum2 sendiri membaca tulisan dari hati ini.
Aldi, saya jadi penasaran bagaimana kelanjutan ceritanya selepas Anggun kembali dari kampung halamannya. :v
BalasHapusSaya bisa sedikit menebak...barangkali sepulang Anggun dari kampung halamannya, ia membawa kue khas dari tanah kelahirannya yg alan diberi pada Aldi lengkap dengan sepasang tali sepatu berwarna coklat... :D
BalasHapussaya tahu siapa aldi dan siapa anggun yg sebenarnya :D
BalasHapusbuka kartuma ari nah?